Unair Kukuhkan Prof Mahmudah Sebagai Guru Besar Biostatistika Multivarian

Unair kembali menegaskan peran ilmu pengetahuan dalam mendukung kebijakan kesehatan berbasis data melalui pengukuhan Prof Dr Mahmudah Ir MKes

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Sulvi Sofiana
GURU BESAR - Pengukuhan Prof Dr Mahmudah Ir MKes sebagai guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat dalam bidang Biostatistika Multivarian di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C Unair, Rabu (13/5/2026), 

Ringkasan Berita:
  • Unair mengukuhkan Prof Mahmudah sebagai guru besar bidang Biostatistika Multivarian.
  • Dalam orasi ilmiahnya, ia menyoroti pentingnya precision public health berbasis data dan analisis multivariat.
  • Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks di Indonesia.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Universitas Airlangga (Unair) kembali menegaskan peran ilmu pengetahuan dalam mendukung kebijakan kesehatan berbasis data melalui pengukuhan Prof Dr Mahmudah Ir MKes sebagai guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat bidang Biostatistika Multivarian, Rabu (13/5/2026).

Pengukuhan tersebut berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C Unair, Rabu (13/5/2026), bersamaan dengan tiga guru besar lainnya. Momen ini menjadi bagian penting dari penguatan kontribusi akademik Unair dalam menjawab tantangan pembangunan nasional melalui riset dan inovasi lintas bidang.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Mahmudah mengangkat konsep precision public health sebagai pendekatan baru dalam kesehatan masyarakat yang berbasis data dan lebih adaptif terhadap keragaman kondisi populasi. Ia menilai, dinamika kesehatan saat ini tidak lagi bisa dipandang secara seragam karena setiap wilayah memiliki karakteristik masalah yang berbeda.

“Masalah kesehatan di tiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda, sementara kebijakan yang diterapkan masih cenderung seragam dan kurang mempertimbangkan kondisi lokal,” ujarnya, Rabu (13/5/2027).

Baca juga: UNAIR dan ITS Surabaya Buka Jalur Mandiri 2026 Tanpa Syarat Nilai UTBK

Tantangan Kesehatan Semakin Kompleks

Ia menjelaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran beban penyakit dari penyakit menular ke penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti gaya hidup, urbanisasi, pola konsumsi, dan kondisi lingkungan. 

Di Indonesia, tantangan tersebut semakin kompleks akibat ketimpangan sosial ekonomi, perbedaan akses layanan kesehatan, serta faktor budaya yang mempengaruhi perilaku masyarakat.

Menurut Prof Mahmudah, precision public health hadir sebagai pendekatan yang menempatkan populasi tidak lagi sebagai kelompok homogen, melainkan terdiri dari subkelompok dengan risiko dan kebutuhan yang berbeda. Pendekatan ini mengandalkan pemanfaatan data secara optimal, tidak hanya pada pengumpulan, tetapi juga analisis yang lebih mendalam.

Ia menekankan pentingnya analisis multivariat dalam memahami hubungan kompleks antar faktor kesehatan serta membangun model prediktif untuk deteksi dini risiko penyakit. Dengan demikian, intervensi kesehatan dapat dilakukan lebih cepat, tepat sasaran, dan berbasis bukti.

Lebih jauh, ia menyoroti peluang besar Indonesia dalam mengembangkan pendekatan ini melalui transformasi digital sektor kesehatan. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan seperti fragmentasi data, keterbatasan sumber daya manusia di bidang analisis data, serta kesenjangan infrastruktur digital antarwilayah.

Precision Public Health Dinilai Jadi Solusi

Karena itu, ia menegaskan perlunya langkah strategis seperti penguatan integrasi data kesehatan, peningkatan kapasitas SDM di bidang biostatistika, epidemiologi, dan data science, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.

“Pendekatan kesehatan tidak hanya bertumpu pada aspek medis, tetapi juga dipengaruhi oleh pendidikan, lingkungan, dan kebijakan publik, sehingga kolaborasi menjadi kunci,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa precision public health bukan sekadar inovasi teknis, melainkan perubahan paradigma dalam sistem kesehatan, dari pendekatan reaktif menjadi proaktif dan antisipatif berbasis data.

“Pada akhirnya, penerapan precision public health bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks dan menciptakan sistem kesehatan yang tangguh serta berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Unair,  Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus motor inovasi di tengah dinamika pembangunan yang semakin kompleks.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved