Home »

Jatim

Perselingkuhan Makin Marak, Pengaduan Kasus KDRT Paling Banyak

Kasus KDRT paling banyak diadukan ke lembaga resmi seiring dengan semakin banyaknya kasus perselingkuhan.

Perselingkuhan Makin Marak, Pengaduan Kasus KDRT Paling Banyak
ilustrasi 

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan KB (DP3APP dan KB) Kota Blitar mengklaim jumlah kasus perempuan dan anak di Kota Blitar turun.

Pada 2017, tercatat hanya ada 54 kasus sedangkan pada 2016 terdapat 72 pengaduan kasus perempuan dan anak.

"Berdasarkan data pengaduan yang masuk ke kami jumlah kasus perempuan dan anak di Kota Blitar menurun," kata Kepala DP3APP dan KB Kota Blitar, Sulistyani, Selasa (13/3/2018).

Dari sejumlah pengaduan itu, paling banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hampir 40 persen kasus perempuan dan anak yang diadukan ke dinas merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Misalnya, Pada 2015 terdapat 61 kasus perempuan dan anak. Dari total itu, sebanyak 20 kasus merupakan kasus KDRT.

Pada 2016, Pada 2016, terdapat 72 kasus perempuan dan anak. Dari total itu sebanyak 23 kasus merupakan kasus KDRT.

"Kasus perempuan dan anak yang banyak diadukan ke kami rata-rata kasus KDRT. Pada 2017 lalu kasus yang menonjol juga kasus KDRT," ujarnya.

Menurutnya, pemicu kasus KDRT kebanyakan soal ekonomi dan perselingkuhan. Selain itu, masalah perceraian juga memicu terjadinya kasus KDRT.

"Terkadang mereka rebutan anak kemudian terjadi KDRT," ujarnya.

Untuk kasus anak, kata Sulistyani, juga ada tapi jumlahnya tidak setinggi kasus KDRT.

Untuk penanganan kasus anak, dia menyediakan pendamping dan rumah singgah sementara.

Sampai sekarang Kota Blitar belum memiliki shelter khusus untuk menampung anak yang mengalami kekerasan.

Menurutnya, pembentukan shelter di Kota Blitar belum perlu. Dari sejumlah kasus anak yang dilaporkan ke dinas jenis penanganannya belum membutuhkan shelter.

Kalau pun ada kasus anak yang butuh penanganan lebih lanjut, dinas akan berkoordinasi dengan provinsi.

"Kami memang belum mengusulkan pembentukan shelter ke provinsi. Sebab, di Kota Blitar memang belum terlalu dibutuhkan. Kami hanya menyiapkan pendamping dan rumah singgah sementara untuk menangani pengaduan kasus anak," tegasnya. (Surya/Samsul Hadi)

Penulis: Samsul Hadi
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help