Heboh Terapi Cuci Otak, Rektor Universitas Hasanuddin Sarankan Ini pada Dokter Terawan
Dokter Terawan Agus Putranto merupakan dokter menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.
Penulis: Triana Kusumaningrum | Editor: Edwin Fajerial
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Triana Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dokter Terawan Agus Putranto merupakan dokter menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.
Namanya kian dikenal setalah metode 'cuci otak' yang ia gunakan untuk penderita strok.
Dikabarkan Terawan diberhentikan selama 12 oleh Ikatan Dokter Indonesia karena 'cuci otak' yang ia lakukan.
Terawan sendiri pernah menempuh S3 di Universitas Hasanuddin Makassar, S2 di Universitas Airlangga Surabaya dan S1 di Universitas Gajah Mada.
( Kesaksian Pasien Dokter Terawan yang Jalani Terapi Cuci Otak, Mulai Politisi hingga Pengusaha )
Terkait pemberitaan mengenai Terawan, Rektor Universitas Hasanuddin, Dwia Aries Tina Pulubuhu menjelaskan bahwa secara akademik disertasi dr Terawan tentang 'cuci otak' adalah inovasi dalam dunia kesehatan.
"Saya bukan dokter ya jadi saya akan membahas dari aspek akademiknya dr. Terawan itu memang alumni S3 Unhas, saya komunikasikan dengan semua promotornya secara metode semua hasil penelitiannya sudah tepat, jadi secara akademis menjadi metode temuan," ujar Dwia Aries Tina Pulubuhu rektor Universitas Hasanuddin Makassar saat ditemui di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat acara pertemuan 11 Perguruan Tinggi Negeri Bebadan Hukum (PTN-BH), Rabu (4/4/2018)
Apalagi, menurutnya sampai saat ini perlu ada trobosan dan inovasi dalam bidang kesehatan.
"Temuan dan trobosan-trobosan tentu menimbulkan goncangan distubsi itu biasa, tapi supaya tidak stagnan maka saya kira di dunia medis perlu inovasi," ujarnya.
( 9 Fakta Sosok Dokter Terawan yang Dipecat karena Terapi Cuci Otak, dari Karier hingga Terobosannya )
Dari segi akademis menurut Dwia Aries Tina Pulubuhu sudah sesuai sebagai suatu temuan, maka pihaknya mengakui hal tersebut sebagai temuan.
"Segi akademik sesuai sebagai temuan, maka kita akui sebagai temuan, mungkin berkembang multi pretasi dari berbagai aspek, maka sebaiknya saya kira dr Terawan secara benar dan baik mensosialisasikan temuan itu, terutama pada yang terkait," saran Dwia.
Hal tersebut dimaksudkan agar tidak ada kesimpang siuran intepretasi atau pemahaman.
"Ini kan juga buat masyarakat akan menimbulkan keresahan, tapi disatu sisi dari temuannya dan diuji coba pada pasien dan merasakan manfaatnya, saya hanya bisa membahas hal ini dari aspek akademisnya saja," pungkasnya.
( Mengenal Terapi Cuci Otak, Metode Pengobatan Dokter Terawan yang Dikecam dan Salahi Prosedur )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/dokter-terawan_20180404_114416.jpg)