Jejak Asa Sang Dewi, Pergerakan dan Pembaharuan Tanpa Henti, Dalam Lingkaran Gerak

”Inilah semesta karya seorang seniman tari, Dewi Sulastri, dalam ungkapan Rumi Bersama tim kesenian Sanggar Swargaloka Jakarta,

Jejak Asa Sang Dewi, Pergerakan dan Pembaharuan Tanpa Henti, Dalam Lingkaran Gerak
istimewa
Inilah dsalah satu adegan Drama tari ‘Jejak Asa Sang Dewi’ (JASD) 

TRIBUNJATIM.COM, JAKARTA - Penciptaan laksana arus air yang jernih dan bening tempat cahaya sifat-sifat Yang Maha Mulia menggenang. Meski arus air mengalir sepanjang waktu, citra dan bintang kan tetap bertahan selalu.

Kurun demi kurun, masa demi masa, bergerak melintas, hanya saja pemandangan abadi tiada pernah berubah.

”Inilah semesta karya seorang seniman tari, Dewi Sulastri, dalam ungkapan Rumi Bersama tim kesenian Sanggar Swargaloka Jakarta, ia baru saja menuntaskan karya gemilang ‘Jejak Asa Sang Dewi’ (JASD) Part 3, di Teater Besar – Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, Sabtu lalu (21/04/2018).

 Drama tari ‘Jejak Asa Sang Dewi’ (JASD) ini, menjadi kesatuan gagasan yang dituangkan dalam tiga bagian; satu tema, yang saling terhubung. Pergelaran bertajuk serupa sebelumnya pernah dua kali dipentaskan, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Minggu 19 Juni 2011, dan Jum’at 28 Juni 2013.

 “Kami bersyukur, dan menjadi satu kebahagiaan pertunjukan ini mampu menyedot animo penonton. Alhamdulillah, lebih dari 700 penonton yang sebagian besar adalah anak-anak muda,” ujar pendiri Sanggar Swargaloka, Suryandoro, usai pergelaran.

Baca: Asus Luncurkan Zenfone Max Pro M1, Lihat Harganya Bikin Wow. . .

Penonton anak-anak muda, tersebut terang Suryandoro, datang dari berbagai komunitas penggiat seni di Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Termasuk para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, antara lain, dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Universitas Negeri Solo (UNS), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan dari Universitas Negeri Semarang (UNES).

Bagi Dewi Sulastri, karya ini memiliki makna tersendiri. Setidaknya pada ‘Jejak Asa Sang Dewi’ Part 3 ini, Dewi mendapat limpahan energi tampil sinerji dengan kedua putra putrinya yang beranjak dewasa, Bathara Saverigadi Dewandoro, dan Bathari Putri. Filosofi gerak menjadi paling esensi atas perjuangan Dewi, sebagai sebuah proses yang terus mengalami perubahan, pergerakan, dan pembaharuan, tanpa henti.

 Eko Supriyanto, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengapresiasi pergelaran ini. Ia membandingkan JASD dengan seni garapan sang maestro tari Jawa klasik, Theodora Retno Maruti, dan Elly D. Luthan, pada umumnya.

 “Setidaknya dalam menyikapi vokabuler; berbagai idiom tari Jawa yang dikembangkan, JSAD punya keunggulan dalam hal membidik selera anak muda millenials,” ujar seniman tari yang pernah berkolaborasi dengan artis Amerika, ratu pop Madonna Louise Ciccone ini, usai menyaksikan pergeleran.

Halaman
12
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved