Penjualan Bersih Terus Tumbuh, Suparma Masih Andalkan Bahan Baku Impor

PT Suparma Tbk, perusahaan asal Surabaya masih mengandalkan bahan baku impor untuk memproduksi kertas.

Penjualan Bersih Terus Tumbuh, Suparma Masih Andalkan Bahan Baku Impor
TRIBUNJATIM/MUJIB ANWAR
Jajaran Direksi PT Suparma Tbk, menunjukkan produk perusahaannya, Senin (4/6/2018) malam, usai RUPS Tahunan di Surabaya. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - PT Suparma Tbk, perusahaan asal Surabaya masih mengandalkan bahan baku impor untuk memproduksi kertas.

Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur mengatakan, bahan baku yang diimpor perusahaannya terutama jenis pulp serat panjang. Ini dilakukan, karena 48 persen produksi adalah kertas duplex.  

"Impornya dari Kanada, Jepang, dan Selandia Baru. Negara-negara yang punya musim dingin," ujarnya, Senin (4/6/2018) malam, usai RUPS Tahunan di Surabaya.

Di Indonesia, bahan baku tersebut tidak ada, karena disini tidak ada musim dingin. Musim inilah yang membedakan panjang dan pendeknya pohon pinus, dan tentu saja umurnya. Makin tua umurnya, makin panjang seratnya.

"Makanya, harga bahan baku ini dua kali lipat dibandingkan harga bahan pembantu," tegas Hendro.

Baca: Ramai Gelaran Pilkada Serentak, Suparma Optimis Penjualan Kertas Bungkus Mamin Ikut Terdongkrak

Tahun 2017, penggunaan bahan baku oleh PT Suparma mencapai 24 persen. Sedangkan untuk bahan pembantu sebesar 31 persen.

Untuk bahan baku yang tersedia di dalam negeri, Hendro menyebut jenis pulp serat pendek, yang dipakai memproduksi tisu dan kertas coklat atau laminating. 

"Khusus serat pendek, kita datangkan dari Riau," katanya.

Sementara untuk bahan dari kertas bekas, Hendro mengaku tidak risau. Karena selama 10 tahun terakhir ini, kertas bekas sangat berlimpah, seiring dengan sudah dipisahkannya sampah basah dan kering oleh masyarakat.

"Apalagi pertumbuhan perusahaan kertas di Indonesia juga kecil," imbuhnya.

Baca: Tanggapi Pernyataan Sandiaga Uno, Pakde Karwo: Kritik dan Saran Pejabat Negara Harus Lewat Mendagri

Sementara itu, sepanjang tahun 2017, penjualan besih PT Suparma Tbk mencapai Rp 2.093 miliar. Tumbuh 8,3 persen dibandingkan penjualan bersih 2016 yang hanya Rp 1.932 milair.

Hendro menyebut, naiknya penjualan bersih tersebut terutama disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata produk kertas sebesar 4,4 persen dibanding tahun sebelumnya.

Hal itu, berdampak pada produksi kertas perseroan yang juga mengalami peningkatan 1,4 persen, dari 205.111 MT di tahun 2016 menjadi 208.077 MT pada tahun 2017.

Untuk tahun 2018 ini, hingga bulan April penjualan bersih perseroan tumbuh sebesar 14,8 persen. Ini terutama disebabkan oleh naiknya harga jual rata-rata produk kertas Januari sampai April 2018 sebesar 11,1 persen, dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

"Pencapaian penjualan bersih ini setara dengan 31,4 persen dari target penjualan bersih perseroan sebesar Rp 2.334 miliar," pungkas Hendro. (*)

Baca: Semua Rumah Kos di Surabaya Akan Dicek Paska Lebaran, Risma: Tak Sesuai Izin Kami Tutup

Penulis: Mujib Anwar
Editor: Mujib Anwar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved