Semarak Ramadan 2018

Waliono, Muadzin Bersuara Merdu di Terminal Bus Jember ini Ternyata Tuna Hasta, Lalu. . .

seorang muadzin melantunkan suara adzan dhuhur di mushalla Terminal Bus Tawang Alun Jember, dengan mikrofon dijepit diantara dagu dan pundaknya

Waliono, Muadzin Bersuara Merdu di Terminal Bus Jember ini Ternyata Tuna Hasta, Lalu. . .
istimewa
Waliono Penyandang tuna hasta yang jadi muadzin di Terminal Tawang Alun Jember 

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Bersedekah atau melakukan amal perbuatan yang baik bisa dilakukan apa saja dan siapa saja saat bulan ramadan seperti ini .

Ada hal yang menarik yang dilakukan seorang anggota KAHMI Universitas Jember, Tom Mas'udi.

Melihat seorang muadzin melantunkan suara adzan dhuhur, Senin (11/6/18) di mushalla Terminal Bus Tawang Alun Jember, dengan mikrofon dijepit diantara dagu dan pundaknya, membuat hatinya tergerak.

Kebetulan sang muadzin ternyata tidak mempunyai kedua tangan, ia menggunakan dagu dan badannya (pundaknya) untuk menjepit microfon sebagai sara untuk memanggil orang yang hendak sholat.

Maka pria asal Kediri Jawa Timur ini mendekati sang muadzin, diambilnya mikrofon diantara pundak dan dagu itu perlahan dengan isyarat kerdipan mata mohon izin untuk membantu memeganginya.

Baca: Ustaz Alfian Tanjung Tiba di Lapas Porong Jalani Hukuman Kasus Hate Speech Terhadap Jokowi

"Saya trenyuh menyaksikan Beliau ysang muadzin yang tuna hasta, saat mengumandangkan adzan dengan mikrofon diletakkan diantara dagu dan pundaknya. Lalu secara reflek saya ambil mik itu dan saya pegangi hingga selesai beliau adzan," kata Tom Mas'udi, Bacaleg Partai Bulan Bintang Kota Surabaya yang juga sering mengumandangkan adzan di masjid Baitul Akhirah Nginden Jangkungan Sukolilo Surabaya.

 Usut punya usut, siapa muadzin di terminal tadi ?

" Namanya Waliono usianya 44 tahun, lahir dan tinggal di Bondowoso bersama isteri dan seorang anaknya," imbuh Tom yang alumni Jurusan Sastra Inggris Universitas Jember itu.

 Menieit pengakuannya, Waliono bekerja sebagai pencari dan pemandu penumpang bus di terminal Tawang Alun.

"Tiap pagi saya berangkat dari Bondowoso, sekitar 30 km dari sini, dan pulang setelah saya adzan dan shalat ashar di mushalla", ujar pak No, panggilan Waliono yang mengaku penghasilannya cukup untuk menopang rumah tangganya.

Baca: Kereta Api Sleeper Beroperasi Besok, Bisa Mudik Nyaman Berfasilitas Mewah, Ada Promo Tiket Lho!

Kendati punya keterbatasan, namun suara Waliono sangat merdu, ia menjadi musallah setempat setiap datang waktu salat Dhuhur dan Ashar tiba.

"Sungguh luar biasa, pak Ono ini. Ia sangat tabah dan mensyukuri nikmat iyang ia berikan kepadanya, kendati punya tubuh yang tidak lengkap," imbuh pria Tiga anak ini biasa disapa Tom.

Waliono sendiri merupakan tamatan SD kelahira tahun 1972, ia diakrunia seorang istri bernama Seniwati dan seorang anak yang kondisinya lengkap dan sehat.

Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help