Novi Anoegrajekti, Profesor di Universitas Jember yang Giat Bangkitkan Tradisi Lisan

Dosen sastra Indonesia Universitas Jember ini melihat, bahwa pelaku seni dalam budaya Using perlu mendapat perhatian,

Novi Anoegrajekti, Profesor di Universitas Jember yang Giat Bangkitkan Tradisi Lisan
(surya/Erwin Wicaksono)
Pertemuan FGD di Sanggar Tari "Sayu Sarinah" bersama tim peneliti dan budayawan Banyuwangi 

 TRIBUNJATIM.COM, JEMBER – Tradisi lisan adalah budaya yang harus dilestarikan, dihidupkan, dan diperhatikan agar tetap memiliki eksistensi dalam kehidupan budaya Nusantara, begitulah kiasan semangat dari Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M. Hum dalam membangkitkan tradisi lisan melalui berbagai riset yang pernah dan sedang dilakukannya.

Saat ini, profesor yang pernah mendapatkan penghargaan Satyalencana Karya Sastra XX dari Presiden RI 2017 silam itu sedang melakukan penelitian di Kabupaten Banyuwangi berjudul “Model Optimalisasi Potensi Budaya Using dan Industri Kreatif Banyuwangi untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan” yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Dosen sastra Indonesia Universitas Jember ini melihat, bahwa pelaku seni dalam budaya Using perlu mendapat perhatian, maka dari itu ia menekankan adanya lima pilar pendukung dalam pengembangan kebudayaan, yakni Pertama Negara yakni Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Kedua Pelaku Budaya yakni Seni dan Ritual, Ketiga, Masyarakat Pendukung Budaya, Keempat Pengusaha, dan Kelima Agama.

Baca: Ruben Onsu Posting Foto Istri Bersih-bersih Tengah Malam, Koleksi Lemari Sepatunya Jadi Sorotan

Kelima pilar tersebut harus bersinergi agar optimalisasi potensi budaya untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku dan masyarakat pendukungnya dapat terwujud.

“Saya melihat pelaku seni yang berkecimpung dalam bidang seni tradisi perlu ditingkatkan kesejahteraan dan masa depan mereka diperhatikan. Maka dari itu, semangat membangun industri kreatif harus dihidupi oleh para pelaku seni tradisi seperti melakukan diversifikasi usaha dan meningkatkan kompetensi seni yang tidak lekang oleh usia (sinden, perias, pelatih tari). Saya melihat Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi,” terang Novi kepada Surya.co.id (tribunjatim.com) ketika ditemui di rumahnya.

Baca: 6 Negara Lolos dan 8 Lainnya Tersingkir, Berikut Hasil Lengkap Matchday 2 Fase Grup Piala Dunia 2018

Representasi tradisi lisan di Banyuwangi di antaranya seni tradisi gandrung, ritual seblang, dan cerita rakyat Sri Tanjung adalah sebuah modal yang dapat dikembangkan dengan menyertakan ‘Industri Kreatif’ di dalamnya sehingga identitas kultural Banyuwangi yang bersifat lokal dapat mengglobal.

Hal itu sudah dilakukan melalui kegiatan fesyen Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang mengemas tradisi secara modern.

“Mengingkat upaya mewujudkan kesejahteraan sebagai tanggung jawab bersama, optimalisasi juga dirancang melibatkan seluruh komponen seperti, negara, pelaku seni/ritual, masyarakat pendukung, pasar, dan pemuka agama. Oleh karena itu, lima pilar tersebut harus bersinergi” tambahnya.

Selanjutnya dikatakan bahwa untuk mewujudkan hal itu, semua elemen kita rangkul dalam menjadikan yang lokal menjadi mengglobal.

Dari situ wisatawan yang hadir akan semakin bertambah sehingga para pelaku seni tradisi yang terlibat di dalamnya memperoleh peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Halaman
1234
Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help