Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Novi Anoegrajekti, Profesor di Universitas Jember yang Giat Bangkitkan Tradisi Lisan

Dosen sastra Indonesia Universitas Jember ini melihat, bahwa pelaku seni dalam budaya Using perlu mendapat perhatian,

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Yoni Iskandar
(surya/Erwin Wicaksono)
Pertemuan FGD di Sanggar Tari "Sayu Sarinah" bersama tim peneliti dan budayawan Banyuwangi 

Novi Anoegrajekti mengawali studi pendidikan tinggi di Universitas Jember pada tahun 1985, ia kala itu mengambil program studi Sastra Indonesia dan lulus pada tahun 1989.

Setelah itu, ia menempuh S2 di Universitas Gadjah Mada, dan selang beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan S3 di Univesitas Indonesia dengan mengambil bidang Ilmu Susastra dengan konsentrasi Cultural Studies dan diselesaikannya tahun 2006.

Baca: Tak Hanya Cabe-cabean, Ini 20 Istilah Unik di Dunia Balap Liar, dari Main Magic Sampai Lango

Sebagai seorang akademisi, ia aktif di berbagai organisasi, menjadi Ketua Hiski Komisariat Jember (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia), Ketua II ATL ( Asosiasi Tradisi Lisan) Jawa Timur, dan Koordinator Kelompok Riset (Keris) Budaya dan Ekonomi Kreatif (Pendalungan, Using, Tengger, dan Madura). Itulah pengalaman organisasi yang pernah dan sedang ia hidupi.

Riset demi riset terus ia lakukan, bermula dari yang didanai Toyota Foundation, Ford Foundation, hingga DRPM Kemenristekdikti.

Semangat mengembangkan atmosfer akademik tampak melalui salah satu kegiatannya, yaitu mengorganisasi karya ilmiah pada akademisi di Indonesia melalui kegiatan pertemuan ilmiah dan memublikasikan dalam bentuk prosiding dan jurnal.

Semangat kebersamaan juga dikembangkan melalui kegiatan penelitian yang dilakukan selama ini. Ia selalu berusaha mengajak dan melibatkan koleganya di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, lintas fakultas, dan lintas universitas.

Saat ini, profesor kelahiran Malang 52 tahun silam itu sedang melakukan riset di Kabupaten Banyuwangi berjudul “Model Optimalisasi Potensi Budaya Using dan Industri Kreatif Banyuwangi untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan”.

Tujuannya sangat mulia, yakni melestarikan seni tradisi termasuk tradisi lisan, melalui pengembangan industri kreatif, agar pelaku seni tradisi dan masyarakat pendukungnya semakin berdaya dan sejahtera.

Baginya, riset adalah sesuatu yang bermakna dalam kehidupannya, Novi mengaku dapat memperoleh banyak pelajaran kehidupan saat melakukan riset.

Baca: Sulap Talenan Kayu Jadi Karya Seni, Lettering Art Perempuan Surabaya ini Kini Dilirik Para Mahasiswa

“Sangat berarti sekali riset dalam perjalanan hidup saya, saat riset saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga, dari riset pula kita dapat menjadi problem solver bagi masyarakat, dan menemukan solusi sehingga masyarakat dapat berdaya,” ungkapnya

Karena pengalamanya dalam penelitian, ia pernah menjadi penyaji terbaik dalam Seminar Hasil Penelitian Program Kompetitif Nasional dari Direktorat Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014.

 Tetap Prioritaskan Keluarga Meski Dilanda Kesibukan

Menjadi seorang peneliti membuat Novi Anoegrajekti mempunyai kesibukan yang luar biasa, konsekuensinya ia menjadi tidak mempunyai banyak waktu bersama keluarga, apalagi ditambah sang suami bekerja sebagai PNS di Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.

“Itu sudah konsekuensi, ya. Kesibukan pastinya padat, sebuah riset penelitian membutuhkan waktu yang cukup,” ungkapnya.

Namun meski memiliki kesibukan yang padat ia memiliki solusi untuk dapat mempunyai waktu bersama keluarga, pada saat berkumpul bersama keluarga ia menekankan waktu yang berkualitas bersama keluarga sehingga pertemuan bersama keluarga lebih bermakna.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved