Pilpres 2019

Pengurus Besar Pergerakan Penganut Khittah Nahdliyyah Desak Ma'ruf Amin Mundur dari Rais Aam PBNU

Pengurus Besar Pergerakan Penganut Khittah Nahdliyyah (PB PPKN) menyoroti Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin.

Pengurus Besar Pergerakan Penganut Khittah Nahdliyyah Desak Ma'ruf Amin Mundur dari Rais Aam PBNU
ISTIMEWA
Ketua Dewan Penasehat PB PPKN, Choirul Anam atau Cak Anam (tengah). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pengurus Besar Pergerakan Penganut Khittah Nahdliyyah (PB PPKN) menyoroti Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin yang telah dipilih sebagai bakal Cawapres untuk mendampingi Jokowi dalam gelaran Pilpres 2019.

Ketua Dewan Penasehat PB PPKN, Choirul Anam, mengimbau kepada Ma'ruf Amin segera menyelesaikan atau menyerahkan jabatan Rais Aam kepada Wakil Rais Aam, dan/atau memanggil musyawarah ulama NU untuk mengisi jabatan Rais Aam sesuai aturan yang ada dalam AD/ART NU.

Menurut Cak Anam, sapaan Choirul Anam langkah ini perlu segera dilakukan demi menjaga ketenangan dan keutuhan nahdliyin, serta terjaganya orisinalitas wasiat para ulama sepuh yang telah berjuang keras membawa NU kembali ke khitthah 1926.

"Kami berharap pengganti rais aam adalah kiai yang memiliki daya juang dan bisa menyelamatkan NU serta bisa menjadi penyambung suara langit," kata Cak Anam, Minggu (12/8/2018).

Karena dari sisi tata-nilai dan qonun asasi, posisi Rais Aam adalah jabatan tertinggi di lingkungan NU sekaligus amanah yang harus ditunaikan dalam masa khitmad tertentu.

Sebelum memangkunya, diikat terlebih dulu dengan ikrar, janji dan bai'at serta dibalut kontrak jam'iyah, yang tidak boleh dikonversi langsung maupun tidak langsung dengan jabatan politik apapun.

Namun saat ini Ma'ruf Amin telah melibatkan diri dalam jabatan politik praktis yang membelah pandangan Nahdliyyin menjadi dua.

Satu kelompok menganggapnya sebagai berkah dan nikmat yang patut disyukuri, namun di sisi lain menerima sebagai musibah yang mengancam terpecahnya ukhwah nahdliyah.

Selain itu, Cak Anam juga berpendapat bahwa sebaiknya Ma'ruf Amin tidak perlu mengajak atau menganjurkan warga NU yang telah dewasa dalam menentukan pilihan politiknya kepada beberapa partai politik.

Bahkan, telah banyak kader NU yang membangun karier di beberapa partai politik, untuk diajak kembali ke PKB.

"Ajakan Kiai Ma'ruf itu, akan menimbulkan goncangan dan kesan kuarang baik. Bahkan, bisa jadi, Kiai Ma'ruf akan distigma tidak amanah dalam membawa misi pendahulunya, terutama para muassis NU," tegas mantan ketua PW GP Ansor Jatim ini.

Di kesempatan yang sama, Ketua PB PPKN, Ali Azhar menambahkan bahwa PKB bukan satu-satunya partai yang pernah dilahirkan NU tetapi ada juga PPP.

Bahkan dengan adanya Khittah NU sekarang ini, kader-kader NU tersebar di hampir semua partai yang ada, sehingga pernyataan rais aam itu bisa menyakiti umat dan parpol-parpol lain.

"Cak Imin harusnya sadar tak bawa NU demi kepentingan PKB. PB PPKN siap berhadapan dengan PKB demi menyelamatkan Khittah NU, sebab kalau dibiarkan NU bisa tergilas dengan ormas lain bahkan tak ada lagi kader NU yang militan sehingga lambat laun NU ditinggalkan umatnya, Naudzubillahi Min Dzalik," jelas Ali Azhar.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Edwin Fajerial
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help