Kenang Perjuangan Arak-Arek Suraboto Lewat Teater 'Menunggu Badai Reda 9 November 1945'

Teater Kaki Langit yang mengambil tema "Menunggu Badai Reda 9 November 1945 berlangsung di Taman Budaya Cak Durasim, Jalan Genteng Kali Surabaya

Kenang Perjuangan Arak-Arek Suraboto Lewat Teater 'Menunggu Badai Reda 9 November 1945'
Tribunjatim/christine Ayu N
Para pemain dan kru Teater Kaki Langit dalam pementasan "Menunggu Badai Reda 9 November 1945", Kamis (8/11/2018) 

 Laporan reporter TribunJatim.com, Christine Ayu Nurchayanti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pentas Teater Kaki Langit  yang mengambil tema "Menunggu Badai Reda 9 November 1945 berlangsung di  Taman Budaya Cak Durasim, Jalan Genteng Kali No.85, Genteng, Surabaya, Kamis (8/11/2018),

Pementasan teater  "Menunggu Badai Reda 9 November 1945" tersebut mengisahkan perjalanan Arek-arek Suroboyo pada hari menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pementasan tersebut memakan waktu kurang lebih 120 menit lamanya.

"Kami hanya sekumpulan pemuda-pemudi yang hanya ingin mengabdi untuk Indonesia melalui teater," tutur Rekha, pimpinan produksi pentas Teater Kaki Langit "Menunggu Badai Reda 9 November 1945" saat.

Ia mengemukakannya pada sambutan pementasan "Menunggu Badai Reda 9 November 1945". Berlangsung pada hari Kamis (8/11/2018).

Hesti, Satu Korban Lain Pesawat Lion Air asal Blitar Dimakamkan di Tangerang Selatan

Yusril Ihza, penulis naskah sekaligus sutradara pementasan "Menunggu Badai Reda 9 November 1945" mengaku bahwa ia menulis naskah tersebut karena hatinya tergerak.

"Saya lahir di surabaya. Besar di Surabaya. Tapi saya tidak tahu Surabaya seperti apa. Dari situ saya mulai tergerak untuk menulis tentang surabaya," jelasnya.

Pengabdian kepada Indonesia yang dituangkan melalui pementasan tersebut diapresiasi oleh salah satu veteran Surabaya, Soerodjo.

"Ini adalah sebuah pentas yang mengingatkan kembali pada pertempuran Surabaya pada 10 November 1945," jelas Soerodjo.

Tiba di Malang, Jenazah Lion Air JT-610 Tri Haska Hafidzi Langsung Dibawa ke Blitar

Salah satu aktor, Lailatus Saadah, mengaku bahwa ia mendapatkan sesuatu yang berharga melalui pementasan ini.

"Dalam kemerdekaan. Dalam masa perang. Tidak ada bisa dipertahankan. Kecuali keikhlasan. Kemerdekaan tidak bisa diraih dengan hawa nafsu," tuturnya

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved