Warga Pangeranan Bangkalan Resah Pembalakan Liar Pohon Mangrove Akibatkan Kerusakan Ekosistem

Penebangan liar pohon mangrove di pesisir Kampung Jengkebuan, Kelurahan Pangeranan, Kabupaten Bangkalan, membuat warga setempat resah.

Warga Pangeranan Bangkalan Resah Pembalakan Liar Pohon Mangrove Akibatkan Kerusakan Ekosistem
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM
Tumpukan kayu hasil dari pembalakan liar pohon mangrove di pesisir Kampung Jengkebuan, Kelurahan Pangeranan, Kabupaten Bangkalan. 

TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Pembalakan liar atau penebangan liar (illegal logging) pohon mangrove di pesisir Kampung Jengkebuan, Kelurahan Pangeranan, Kabupaten Bangkalan, membuat warga setempat resah.

Namun beberapa warga memilih diam karena takut terhadap para penebang yang disebut warga sebagai preman.

"Siapa berani saya," ungkap Abdurrahman (63), warga Kampung Jengkebuan, menirukan jawaban seorang penebang mangrove,  Rabu (14/11/2018) .

Ia menjelaskan, penebangan liar itu terjadi sekitar sebulan yang lalu dengan barang bukti berupa tumpukan potongan-potongan kayu mangrove sudah tidak ada karena telah diangkut.

"Beruntung saya masih memiliki foto-foto. Ini akan saya jadikan bukti atas penebangan itu," jelasnya sambil menunjukkan beberapa foto kepada Surya saat berada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan.

Sempat Molor 2 Bulan, Proyek MERR Surabaya Disebut Risma Akan Selesai Akhir Tahun 2018 ini

Menurutnya, pembakalakan mangrove memicu abrasi pantai dan mengganggu keseimbangan ekosistem ikan laut.

"Jika sudah menerobos hutan mangrove, langsung berhadapan dengan laut lepas. Lalu-lalang kapal-kapal besar kelihatan," ujarnya.

Karena itulah, Abdurrahman yang telah 33 tahun menjaga keutuhan mangrove tergerak untuk memberanikan diri melapor ke DLH Bangkalan atas tindakan pembalakan liar itu.

Ia lantas terkenang kepanikan masyarakat di awal penerapan konverasi minyak tanah ke gas yang panik karena khawatir meledak.

Dirut PT Pertamina: Lahan Kilang Tuban Belum Beres, Sudah ada Beberapa Opsi di Daerah Lain

"Saya mati-matian memberikan pengertian agar tidak ditebang. Saat itu banyak orang datang ingin menebang mangrove. Kayu mangrove mau dijadikan kayu bakar karena warga tak mau pakai elpiji," kenangnya.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Ayu Mufihdah KS
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved