Warga Beji Pasuruan Keluhkan Lampu dan Sirine Perlintasan KA Yang Mati

Khosim, warga Beji, mengeluhkan kondisi lampu dan sirine di perlintasan KA Beji, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan yang mati.

Warga Beji Pasuruan Keluhkan Lampu dan Sirine Perlintasan KA Yang Mati
(Surya/Galih Lintartika)
Lampu dan sirine yang sudah mati dan tidak berfungsi sejak enam bulan yang lalu, 

 TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Khosim, warga Beji, mengeluhkan kondisi lampu dan sirine di perlintasan KA Beji, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan yang mati.

Kondisi lampu dan sirine ini sudah tidak berfungsi sejak enam bulan terakhir.

Padahal, kata dia, lampu dan sirine ini sebagai tanda bahwa ada atau tidaknya kereta yang mau melintas. Namun, dua tanda itu mati dan tidak berfungsi.

Lokasi yang dia maksud adalah lokasi dimana terjadi kecelakaan maut antara Mitsubishi L 300 Nopol P 1264 DE dan KA Jayabaya 145 dengan No lok CC 20161306 di perlintasan sebidang tanpa palang pintu Desa Beji, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Rabu (9/1/2019) dinihari.

Dalam insiden itu, lima orang dinyatakan meninggal dunia, dan satu selamat meski mengalami luka.

"Ya saya berharap segera ada perbaikan lah. Kalau gak diperbaiki ya pasti akan ada kejadian lagi. Pagi - sore kemungkinan aman, karena ada relawan yang membantu menyebrangkan dan memberikan informasi kalau ada kereta mau lewat, kalau dinihari ya pasti sepi," katanya kepada Tribunjatim.com.

BREAKING NEWS: Arema FC Umumkan Milomir Seslija Sebagai Pelatih Baru Mereka

Banjir Genangi Jalan Raya Porong Sidoarjo, Penyebab Belum Jelas, Banyak Kendaraan Mogok

4 Fakta Pasangan Tewas Tanpa Busana di Kamar Hotel Sumatera Utara, Diduga Bunuh Diri terkait Restu

Vanessa Angel di Mata Mayang Sang Adik yang Mengaku Sempat Syok, Beri Dukungan dan Doa

Ia menjelaskan, ini tidak bisa dibiarkan dan harus ada perbaikan. Jika tidak, ia khawatir akan ada kecelakaan terulang. Karena memang satu - satunya pengaman di perlintasan itu ya lampu dan sirine, tanda kalau ada kereta mau lewat atau tidak.

"Soalnya palang pintu sudah tidak ada. Seharusnya lampu dan sirine dinyalakan. Dulu masih nyala, tapi enam bulan terakhir sudah mati. Kami warga setempat sudah beberapa kali mengajukan, tapi tak pernah ada jawaban sampai sekarang," imbuhnya.

Irawan, warga lainnya juga memaparkan, dalam kondisi sekarang, perlintasan itu menjadi jalan utama warga setempat dari desa menuju ke Bangil atau le Gempol. Arus lalu lintas di sana juga padat.

"Saya berharap, kejadian ini bisa menjadi pelajaran. Siapapun itu, pihak KAI, atau Pemkab Pasuruan harus jeli mencermati sebuah masalah dan harus segera diberi solusi. Kami berharap kerusakan ini segera diperbaiki," urainya kepada Tribunjatim.com.

Terpisah, Manager Humas Daops 8 Suprapto mengklaim bahwa perawatan dan tanggung jawab perbaikan sirine atau lampu tanda kereta mau lewat itu bukan di KAI. Ia menyebut bahwa itu adalah kewajiban Dinas Perhubungan (Dishub) setempat.

"Bukan tanggung jawab kami, itu alat yang pasang Dishub pak. Mohon utk ditekankan yah, bahwa palang pintu, penjaga pintu dan sirene hanya alat bantu keamanan semata, Alat utama keselamatan di perlintasan bagi pengguna jalan raya adalah rambu lalu lintas," kata Suprapto kepada Surya.

Selain itu, kata dia, dengan adanya kejadian ini, pihaknya menghimbau kepada pengguna jalan raya yang akan melintas di perlintasan sebidang antara jalur rel dan jalan raya, agar mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada. Sesuai dengan UU No: 22/2009 tentang lalu lintas angkutan jalan raya

"tata cara melintas di perlintasan sesuai aturan pemerintah adalah berhenti di rambu tanda STOP, tengok kiri - kanan, kalau aman, tidak ada kereta api yang melintas, baru bisa melintas di perlintasan tersebut. Penjaga pintu, sirene dan palang pintu hanyalah alat bantu keamanan semata," tutupnya. (lih/TribunJatim.com).

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved