Lawan Hoaks, Hayono Isman Ajak Masyarakat Rajin Tabayyun

Calon anggota DPR RI dapil Jatim I nomor urut 1 dari partai NasDem, Hayono Isman mengingatkan masyarakat agar rajin bertabayyun (verifikasi kebenaran

Lawan Hoaks, Hayono Isman Ajak Masyarakat Rajin Tabayyun
istimewa
Hayono Isman, Mantan Menpora era Kabinet Pembangunan VI yang saat ini menjadi Calon Anggota DPR RI dapil Jatim I dari Partai NasDem. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Calon anggota DPR RI dapil Jatim I nomor urut 1 dari partai NasDem, Hayono Isman mengingatkan masyarakat agar rajin bertabayyun (verifikasi kebenaran) dari setiap informasi yang diperoleh agar kehidupan tetap rukun dan tertata dengan baik.

Mantan Menpora era Kabinet Pembangunan VI itu mengatakan, tabayyun merupakan salah satu tradisi umat islam yang dapat dijadikan solusi untuk memecahkan masalah di dalam masyarakat.

"Tentunya mengecek kebenaran dengan tabayyun, akan mendapatkan kesimpulan yang lebih bijak, arif dan lebih tepat sesuai keadaan masyarakat kita. Semua informasi yang tidak benar kita harus lawan dengan tabayyun," ujar Hayono, di Surabaya.

Hayono menegaskan, dengan bersikap tabayyun terhadap informasi yang diterima, masyarakat dapat mengambil informasi yang valid.

Menurutnya, Tabayyun digunakan untuk mengklarifikasi informasi yang masih diragukan, karena informasi bisa datang dari mana saja, dan dari sumber-sumber yang tidak jelas keberadaannya.

"Di tengah keterbukaan demokrasi ini, kita dihadapkan pada gaya hidup yang mudah dalam mendapat sebuah informasi," ungkapnya.

Lebih lanjut, Hayono menjelaskan, dalam era digital dan berkembangnnya media sosial, harus disikapi dengan arif dan bijak, tidak serta merta menerima informasi di media sosial, agar tidak terjebak pada hoaks.

Hayono pun berharap, agar seseorang memegang prinsip tabayyun atau tidak mudah percaya terhadap berita-berita yang beredar apalagi langsung meneruskannya kepada orang lain. Selain itu, masyarakat juga harus terus diberikan pemahaman tentang budaya cek dan ricek.

"Tidak boleh menelan informasi apa adanya. Harus dikonfirmasi dan dipikir apakah isinya sesuai dengan ajaran agama atau sebaliknya ingin menghancurkan agama,” pungkas Hayono.

Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved