Lapas Narkotika Klas II-A Kabupaten Pamekasan Jadi Lapas Percontohan Sadar Literasi

Lapas Narkotika Klas II-A Kabupaten Pamekasan menjadi contoh lapas yang sadar akan literasi.

Lapas Narkotika Klas II-A Kabupaten Pamekasan Jadi Lapas Percontohan Sadar Literasi
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Petugas lapas, Pustakawan dan para lapas binaan foto bersama di taman baca perpus lapas Klas IIA Pamekasan, Rabu (6/2/2019). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASA - Lapas Narkotika Klas II-A Kabupaten Pamekasan menjadi contoh lapas yang sadar akan literasi.

Aktifitas literasi yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pamekasan, akhirnya menjadi contoh kebiasaan baru di lapas yakni menuju lapas percontohan sadar literasi.

”Dengan mencintai buku dan segala jenis literasi lainnya penduduk sebuah negara akan terbiasa berimajinasi dan memprediksi banyak hal”. Demikian pernyataan Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pamekasan, Kusairi (34), Rabu, (6/2/2019).

Pernyataan tersebut senapas dengan dilakukan para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Pamekasan yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Buku Lapas.

20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im, Jadi Panutan Warga Etnis Tionghoa di Pamekasan

Ada Wayang Kulit Madura Berumur 300 Tahun di Pamekasan, Dari Kulit Kerbau dan Cat Lapis Emas

Budaya literasi yang digagas oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pamekasan, berisikan aneka aktifitas literasi seperti bedah buku, pidato kebudayaan pustaka bergerak, lapak baca, pameran karya tulis, poster, buku, hingga komik.

Kusairi mengatakan kegiatan warga binaan pemasyarakatan lapas Klas IIA Pamekasan layak mendapatkan apresiasi karena dengan terbangunnya kesadaran literasi khususnya di lingkungan warga binaan dan di kalangan Lapas pada umumnya sesuai dengan amanat konstitusi pada pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Menkumham pada peringatan Hari Dharma Karyadhika 2017 menegaskan pentingnya budaya literasi di lingkungan warga binaan dengan menyediakan fasilitas perpustakaan yang memadai sebagai wadah kreatifitas dan aktifitas membaca dan menulis warga binaan,” ucap Kusairi.

TIPS CANTIK TERBARU - Cerahkan Kulit Kering dan Kusam dengan Masker Madu dan Putih Telur

TIPS CANTIK TERBARU - 11 Jenis Makanan Murah Meriah yang Bisa Mencerahkan Kulit

Perlu diketahui, pada peringatan Hari Dharma Karyadhika 30 Oktober 2017 lalu, Menteri Hukum dan HAM juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai pihak, antara lain Perpustakaan Nasional, PT Pos Indonesia (Persero), Kompas Gramedia, komunitas Pustaka Bergerak, dan Forum Lingkar Pena (FLP) tentang peningkatan budaya membaca dan menulis bagi tahanan, anak, narapidana dan klien pemasyarakatan.

“Kami bersyukur atas perhatian dan dukungan dari berbagai pihak yang berkomitmen mendukung Gerakan Literasi Penjara yang dirintis di Lapas Narkotika Klas IIA di Pamekasan ini,” imbuh Kusairi.

Warga Binaan diharapkan dapat menempatkan diri sebagai warga Negara yang sadar hak dan kewajibannya sehingga berperan secara aktif, produktif untuk ikut membangun masyarakat yang lebih baik.

TIPS CANTIK TERBARU - 5 Cara Buat Masker Putih Telur, Bisa Hilangkan Komedo hingga Cerahkan Wajah

TIPS CANTIK TERBARU - Mengenal Tren Baru Color Eyelash Extention untuk Kulit Sawo Matang

Pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pamekasan, Kusairi dalam kesempatan tersebut, juga mengenalkan Perpustakaan sebagai institusi yang bertanggungjawab melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan.

"Sesuai amanat Undang-undang Perpustakaan semua pihak didorong untuk membangun taman bacaan atau rumah baca untuk menunjang pembudayaan gemar membaca," katanya.

TREN FASHION - 5 Tanda Sepatu Kamu Sudah Bulluk dan Harus Siap-Siap untuk Menggantinya

TREN FASHION - 5 Tips Memilih Sepatu Boots yang Terlihat Keren Namun Tetap Nyaman Saat Digunakan

Pada Undang-undang tersebut juga dikatakan bahwa gerakan nasional gemar membaca dilaksanakan pemerintah dengan melibatkan seluruh masyarakat.

"Paradigma terhadap warga binaan harus berubah dan disesuaikan konteks saat ini. Warga binaan dapat berubah kehidupannya ke arah yang lebih baik dengan membaca buku yang menginspirasi dan memotivasi. Dengan demikian membaca buku dapat dijadikan acuan untuk memperoleh remisi," terang Kusairi.

Penulis: Kuswanto Ferdian
Editor: Melia Luthfi Husnika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved