Naik Haji Jatim 2019
CJH Asal Probolinggo ini Pergi Haji Dari Tabungan Jualan Nasi Kuning dan Pencari Kardus
- Keinginan pergi haji ke Tanah Suci memberikan kekuatan kepada Tipah, seorang calon jamaah haji asal Probolinggo. Apalagi keinginannya itu dirasa
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Yoni Iskandar
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Keinginan pergi haji ke Tanah Suci memberikan kekuatan kepada Tipah, seorang cCalon Jemaah Haji (CJH) asal Probolinggo. Apalagi keinginannya itu dirasa tidak mungkin.
Selama sembilan tahun, Tipah dan suaminya sedikit demi sedikit menabung dari hasil jualan nasi kuning di depan sekolah. Keseharian sang suami pun sebagai pemulung mencari kardus.
Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat pasangan suami istri asal Alas Tengah, Besuk, Probolinggo ini untuk menunaikan Rukun Islam ke lima.
Perjalanan kisahnya untuk berhaji diceritakan Tipah saat sang suami mulai mengajak menabung.
"Suami saya bilang, Bismillah ayo berangkat haji meskipun kita tidak kaya," kata Tipah saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Kamis (11/7/2019).
• Eks Suami Barbie Kuma Bongkar Kelakuan Mantan Istri Pasca Cerai, Foto di WA Jadi Bukti Valid?
• Korban Tabrakan di Depan Kampus ITN Malang Wafat Setelah Dirawat 2,5 Jam, Pelaku Sempat Ingin Kabur
• Kasus Pria Bertopeng Pembacok Ibu Muda Tulungagung, Mabuk-mabukan Sebelum Ambil Topeng
• Rasa Trauma Bikin Remaja 14 Tahun Ini Enggan Ngaji, Terkuak Guru Agamanya 2 Kali Cabuli di Rumah
Sejak tahun 2010, Tipah dan sang suami menabung. Setiap hari seadanya uang sekitar Rp 20 ribu bahkan recehan Rp 1000 ditabung untuk niat haji.
"Saya jualan nasi kuning, biasanya masak disuruh pondok. Bapak (suami) cari kardus, kemana-kemana sepeda onthel itu," kata Tipah kepada Tribunjatim.com.
Dari tabungan awal Rp5 juga, Tipah dan suami mendaftar sebagai calon jamaah haji. Dirinya pun semakin bersemangat bekerja untuk melunasi biaya haji.
Dirinya menyisihkan uang yang kemudian dititipkan kepada salah satu tokoh membantu menyimpan tabungan.
Saat ini Tipah mendapat kerja dari para habaib untuk membantu masak di Pondok Pesantren sekitar tempat tinggalnya.
"Keinginan itu, pokoknya niat, niat, niat. Bismillah naik haji, tidak punya apa-apa tidak bilang-bilang, yang penting terus kerja, terus kerja, nabung. Dulu suami saya pakai sepeda onthel itu setor sampai diketawain sama karyawan uangnya receh Rp 1000," kenang Tipah.
Namun, pada tahun 2018 keinginannya berangkat haji bersama sang suami kandas. Bukan karena uang tabungan tidak cukup, tetapi suami Tipah lebih dahulu meninggal dunia.
"Bismillah siap, Insyaallah. Latihannya ya kerja di pondok itu masak tidak pulang-pulang," katanya kepada Tribunjatim.com.
Tipah menyampaikan, tujuannya berhaji ini tak lain untuk mencari bekal ibadah dalam menghadapi kematian kelak.
"Kesini diantar ponakan, saya berhaji sendiri suami meninggal tahun 2018 harusnya berangkat bareng tapi saya sudah bahagia haji tujuan saya. Mudah-mudahan jadi bekal ibadah nanti," pungkas dia.