Gus Dur Menjadi Sumber Rezeki Para Janda dan Warga di Sekitar Makamnya
Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah dipanggil Sang Khalik pada 30 Desember 2009.
Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: yulis sulistyawan
Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Manik Priyo Prabowo dan Sundah Bagus Wicaksono
TRIBUNJATIM, LAMONGAN - Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah dipanggil Sang Khalik pada 30 Desember 2009.
Kini, enam tahun lebih setelah kepergiannya, almarhum masih bisa menjadi sandaran hidup bagi orang-orang yang mengais rezeki dengan menjual kebesaran nama Gus Dur.
Seperti yang dilakukan Suwaldi dan beberapa janda yang menjual buku dan VCD tentang Gus Dur di kawasan makam Gus Dur yang berada di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.
Suwaldi, pria paruh baya yang dulunya menjadi pekerja bangunan, sejak 2011 menanggalkan pekerjaan yang menguras fisik yang telah dilakoninya sejak muda.
Mengenakan kaus putih sambil mengayuh sepeda, bapak tiga anak bersyukur bisa berdagang meski tak memiliki kios.
Dengan modal buku dan Video Compact Disk (VCD) berisi tentang Gus Dur, Waldi sapaan akrab lelaki kelahiran Yogyakarta ini bisa menghidupi keluarganya dengan cara menjual ke peziarah Al Gus Dur.
"Buku dan videonya berisi macam-macam (tema). Ada candaan Gus Dur, ada buku doa dan juga ada video berisi pengajian. Semuanya (VCD dan buku)," jelas Suwardi kepada Tribunjatim.com, Sabtu (4/2/2017).
Tak sendirian, Waldi pun kini turut memberdayakan kaum dhuafa yang tinggal tak jauh dari Ponpes Tebu Ireng.
Ibu-ibu rumahtangga yang telah menjanda, diajaknya untuk ikut mencari rezeki dari berjualan buku dan VCD Gus Dur.
"Saya bersyukur bisa mengajak kaum janda yang bingung mau bekerja apa. Dengan berjualan ibu-ibu ini pun bisa memenuhi kebutuhan kelurganya," jelasnya.
Pantauan TribunJatim, terdapat beberapa perempuan yang turut menjual buku dan VCD Gus Dur di lokasi tak jauh dari makam Gus Dur.
Mereka langsung mendekati peziarah untuk menawarkan buku dan VCD yang didrop oleh Suwaldi. Mereka dengan cekatan dan leluasa menawarkan dagangannya tanpa harus takut disuruh pergi oleh pengelola Ponpes dan Makam Gus Dur.
Beberapa ibu-ibu yang coba diwawancarai TribunJatim memilih mengarahkan kepada Waldi untuk memberikan penjelasan.
Para peziarah pun juga sebagian tertarik membeli buku dan VCD tentang Gus Dur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/makam-alm-kh-abdurrahman-wahid-atau-gus-dur-3_20170207_153829.jpg)