Kisah Nenek yang Rela Tempuh Jarak 50 Kilometer untuk Berjualan Nasi Jagung
Dia adalah seorang penjual nasi bungkus keliling bernama Sriana (60) yang tinggal di Dadinawung, Babat, Lamongan.
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Edwin Fajerial
Laporan Wartawan Surya, Mohammad Romadoni
TRIBUNJATIM.COM, GRESIK- Hujan gerimis yang menguyur sebagian wilayah Gresik, Senin dini hari (20/2017) mulai membasahi aspal di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo, Gresik, Jawa Timur.
Ada seorang perempuan tua duduk bersila di pinggir jalan itu.
Persis disamping kirinya ada sebuah kotak warna putih dan wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
Air hujan yang turun cukup deras tak dihiraukan wanita tua berbaju lengan panjang garis-garis dan mengenakan ikat kepala berwarna merah itu.
Beberapa saat kemudian dia berteduh di dalam sebuah cafe sembari menunggu hujan reda dan kembali berjualan.
Dia adalah seorang penjual nasi bungkus keliling bernama Sriana (60) yang tinggal di Dadinawung, Babat, Lamongan.
Diusianya yang menginjak kepala enam, Sriana tetap bersemangat bekerja.
Dia harus berjuang keras untuk mencari rupiah, karena delapan orang anaknya menunggu di rumah.
Mbah Sri panggilan akrab Sriana setiap hari harus menempuh jarak kurang lebih 50 kilometer dari Babat menuju ke Gresik untuk mencari rejeki.
Jarak sejauh itu, Mbah Sri hanya menjual nasi jagung yang dibungkus kertas minyak berisi lauk sederhana seharga Rp 5.000.
Keuntungan dari menjual nasi bungkus yang tak sebera itu selalu dia syukuri. Meski demikian, ia enggan dan tidak mau menjadi orang peminta-peminta.
"Kalau capek tidur diemperan toko. Sambil menunggu angkutan yang mau ke terminal Gresik," kata Sriana.
Sudah 20 tahun Mbah Sri berjualan nasi bungkus, saat itu harga satu nasi bungkus masih Rp 1.000.
Kedua wadah yang dibawanya terlihat nasi bungkus Mbah Sri masih banyak.