Kepincut Inovasi yang Dibuat, Sri Sultan Undang Bupati Anas Berbagi Pengalaman

Inovasi Banyuwnagi dipaparkan dalam forum yang diikuti para kepala daerah dan seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Yogyakarta.

Tayang:
Penulis: Haorrahman | Editor: Mujib Anwar
istimewa
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat makan siang dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, di sela-sela forum bersama Pemprov DIY, Rabu (19/4/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, YOGYAKARTA - Program pemerintah daerah harus terukur dan berorientasi pada hasil, sehingga bisa berdampak signifikan ke masyarakat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, saat ini belanja pemerintah cenderung terbatas karena banyak dilakukan efisiensi di sejumlah bidang. Dengan kemampuan anggaran negara yang terbatas itu, perlu program yang fokus dan berorientasi pada hasil.

Itu disampaikan Anas di sela-sela forum bersama Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (19/4).

Dalam forum yang diikuti para kepala daerah dan seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Yogyakarta, Anas memaparkan sejumlah inovasi di Banyuwangi, sehingga bisa mendorong kemajuan di daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa itu.

"Jadi program harus menganut asas money follow result, berorientasi ke manfaat program,” ujar Anas saat dihubungi.

Baca: Belajar Pertanian Jagung Modern, Anas Pilih Belajar ke Kampung Tetangga Bomber asal Lamongan

Anas mengatakan dirinya diundang oleh Gubernur Sri Sultan ke Yogyakarta untuk berbagi pengalaman.

"Tentu saya juga mengambil pengalaman dan mencuri ilmu teman-teman Yogyakarta, sehingga sinergi ini bisa membawa kemajuan bersama," papar bupati 43 tahun itu.

Anas mengatakan, program-program harus diefisienkan sesuai manfaat ke masyarakat, tidak dibagi rata ke semua SKPD .

Dia mencontohkan, tahun lalu Banyuwangi berhasil menghemat Rp213 miliar atau 13 persen dari total belanja langsung, namun dengan tetap tidak mengurangi dampak ke masyarakat.

"Dulu kami punya sekitar 4000 program, lalu kami cermati satu-satu, dan akhirnya dipangkas tinggal 1.200 program. Jadi tidak asal semua SKPD punya program yang dibagi rata, tapi ditakar manfaatnya," kata Anas.

Dia mencontohkan sejumlah program yang sebelumnya kurang berorientasi pada hasil. Misalnya, dulu ada program peningkatan kebersihan sungai. Tapi dinas terkait mewujudkannya dengan sejumlah seminar tentang sungai bersih.

"Memang program seminar tidak masalah sepanjang pelaporan administrasinya baik. Tapi tidak berhenti di administrasi. Kalau seminar kan hasilnya kertas, maka program seperti itu diganti menjadi yang lebih berorientasi hasil dengan Festival Sungai Bersih, menempatkan CCTV di pojok-pojok sungai agar semuanya berpikir ulang ketika akan membuang sampah, dan menjadikan sungai sebagai destinasi wisata," jelas Anas.‎

Baca: Disekitar Bekas Lokalisasi Terkenal ini Sekarang Disulap Jadi Wisata Pantai Syariah

Anas mengatakan, dengan berbagi pengalaman ini, diharapkan daerah-daerah bisa saling dukung dalam meningkatkan kinerja pemerintahan. Banyuwangi sendiri telah mendapat nilai A dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi (Kementerian PAN-RB).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved