Wayang Mini Bikinan Perempuan Difabel ini Sukses Go International, Begini Lika-liku Perjuangannya
Ibu satu anak ini, selain mampu meneruskan perjuangan ayahnya melestarikan kesenian tradisional wayang, juga mampu memperbaiki ekonominya.
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Meski hidup di atas kursi roda alias difabel, tidak membuat Herlin Susilowati (37) menyerah dan berpangku tangan.
Ibu satu anak ini, justru mampu meneruskan perjuangan ayahnya melestarikan kesenian tradisional wayang.
Warga Jalan Imam Bonjol , Gang Jatijajar nomor 2 Kota Madiun ini memiliki usaha pembuatan wayang kulit dan juga wayang dari kertas kardus.
"Dulu namanya Sanggar Wayang Karya Budaya, ayah saya yang mendirikan, sekitar tahun 90-an. Kemudian pada 2001 saya kembangkan menjadi Aisyah Handycraft Karya Budaya," kata Herlin.
Menurut Herlin, ayah kandungnya bernama Sujito (75) merupakan seorang perajin wayang di Kota Madiun. Kini, ia mewarisi bakat yang dimiliki ayahnya.
Seiring dengan perkembangan zaman, wayang kulit kurang diminati masyarakat. Apalagi, harga wayang kulit ukuran normal harganya cukup mahal.
Oleh sebab itu, setelah usaha pembuatan wayang dikelolanya, ia mencoba melakukan inovasi. Herlin mencoba membuat wayang dengan kertas bekas, sehingga harga jualnya lebih murah.
"Dulunya hanya wayang saja. Saya coba kembangkan lagi. Saya bikin wayang mini, dari kertas duplek (kertas bekas kardus kemasan susu bubuk)," katanya.
Herlin mengatakan, dalam sehari ia mampu memproduksi 25 wayang mini dari kardus. Semuanya ia kerjakan sendiri secara manual dengan cara dipahat, sama seperti membuat wayang kulit.
Ukuran wayang mini, sekitar 7 cm hingga 12 cm. Selain dipakai untuk media pembelajaran tokoh wayang, wayang mini juga dia buat sebagai gantungan kunci dan souvenir pernikahan.
Wayang mini untuk gantungan kunci, dia jual seharga Rp 5.000, sedangkan wayang mini ia jual Rp 4.000 hingga Rp 15.000.
Untuk pemasaran, Herlin menggunakan media sosial dan toko online. Selain itu, ia juga aktif mengikuti pameran bersama komunitas perajin di Kota Madiun, Madiun Comunity Craft (MCC).
Saat ini, ia terus mengambangkan usahanya dibantu suaminya Didit Juniawan (35). Omzet penjualannya dalam sebulan sekitar Rp 500 hingga Rp 1 juta.
Pembelinya sebagian besar adalah anak-anak dan guru untuk pembelajaran di sekolah. Selain itu, wayang hasil karyanya juga pernah dibawa ke luar negeri, sebagai cinderamata.
"Ke luar negeri juga banyak. Biasanya untuk cinderamata, pertukaran pelajar ke Amerika atau Korea. Kadang Dinas Pariwisata juga beli kalau ada tamu dari luar negeri," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/wayang-mini-dari-kardus_20170508_225037.jpg)