Biayanya Tembus Rp 14 Juta, Operasi Gratis Katarak Selalu Diserbu Warga
Katarak dipilih karena lebih mempunyai makna kemanusiaan dan lebih bisa membantu mutu hidup yang kurang beruntung.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Katarak menjadi penyakit yang sering diabaikan oleh masyarakat.
Penderita katarak biasanya mengabaikan penyakit ini karena tidak adanya keluhan nyeri, hanya saja kemampuan melihatnya semakin menurun bahkan hingga tidak bisa melihat.
Kesempatan operasi gratis menjadi peluang emas bagi penderita katarak untuk bisa sembuh tanpa terbebani biaya operasi hingga puluhan juta.
Seperti yang dirasakan 34 orang penderita kararak yang mengikuti Bakti Sosial Yayasan Abdihusada Utama di National Hospital.
Hal ini juga dialami Muaddim (58), warga Kenjeran, Surabaya yang setahun terakhir telah mengalami kebutaan pada mata kanannya akibat katarak.
Sehingga aktivitasnya terbatas dengan membantu istrinya berjualan rokok di rumah.
“Saya juga sudah nggak bisa baca, karena mata kiri juga burem kalau dipakai membaca,” jelasnya saat ditemui Surya di National Hospital, Rabu (17/5/2017), mata usai mengikuti operasi katarak gratis.
Baca: Banyak Pedestrian Rusak, Pemkot Surabaya Pilih Lakukan Cara Sederhana ini
Katarak bahkan menghentikan aktivitas Jakmo (52) pada 2 tahun terakhir. Warga Mojokerto tersebut datang bersama 8 orang lainnya untuk mengikuti operasi katarak.
Harapan bisa ikut membantu perekonomian keluarga jika pengelihatannya membaik membuatnya bertekad mengikuti operasi.
“Saya dulu serabutan jadi tukang bangunan. Tapi sejak kena stroke ditambah katarak saya nggak bisa kerja. Sekarang strokenya sudah sembuh, tinggal kataraknya semoga nanti bisa bantu keluarga,” harapnya.
Ketua Umum Yayasan Abdihusada Utama, Soeharsa Muliabarata mengungkapkan sudah 10 kali melaksanakan bakti sosial untuk operasi katarak sejak Juni 2015. Bakti sosial ini kerap bekerja sama dengan sejumlah instansi, mulai dari kodam hingga polda.
Baca: Pemkot Surabaya Gusur dan Bongkar 74 Bangunan Warga di Sekitar Royal Plaza
“Kami menghimpun pasien lewat sosial media, mereka cukup membawa surat keterangan tidak mampu dari RT dan RW. Semua biaya kami tanggung termasuk transportasi. Kami juga bekerja sama dengan dinas sosial bagi yang luar kota,” lanjutnya.
Untuk operasi katarak di National Hospital ia merinci ada 43 orang yang mendaftar, dan yang lolos operasi 36 orang. Para pasien ini juga harus melakukan kontrol pada H+1 dan H+7 usai operasi.
“Kami konsen ke katarak karena lebih mempunyai makna kemanusiaan dan lebih bisa membantu mutu hidup yang kurang beruntung. Dengan gerakan sosial bersama rumah sakit baru mempunyai kesempatan. Ini agak berat bagi pasien kami yang memang kurang mampu, karena operasinya mahal sampai Rp 14 juta,” jelasnya. (Surya/Sulvi Sofiana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ketum-yayasan-abdihusada-utama-soeharsa-muliabarata-dengan-pasien-katarak_20170517_121615.jpg)