Jelang Lebaran, Pesanan Rengginang Asal Blitar Naik Dua Kali Lipat
Momen Lebaran juga menjadi berkah bagi pembuat kue kering rengginang. Menjelang Lebaran, para pembuat kue rengginang kuwalahan melayani pesanan.
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Momen Lebaran juga menjadi berkah bagi pembuat kue kering rengginang. Menjelang Lebaran, para pembuat kue rengginang kuwalahan melayani pesanan.
Seperti yang dialami Supini (55), pembuat kue rengginang asal RT 2 RW 3 Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Tiap menjelang Lebaran, usaha kue renggingang ibu satu anak itu selalu kebanjiran pesanan.
"Ramainya pas Lebaran saja. Biasanya sebelum puasa, pesanan sudah mulai masuk," kata Supini ditemui di rumahnya, Minggu (11/6/2017).
Selain menjadi tempat tinggal, rumah dengan bangunan sederhana tapi lumayan luas itu juga menjadi pabrik pembuatan rengginang bagi Supini. Tiap hari ada empat pekerja yang membantunya membuat rengginang di rumah itu.
Di halaman muka rumah Supine terlihat penuh rengginang yang sedang dikeringkan. Rengginang yang sudah direbus dan dicetak secara manual itu dijemur di bawah terik matahari.
"Kalau cuaca bagus hanya butuh 20 jam untuk mengeringkan rengginang," ujarnya.
Supini memulai usaha itu pada pertengahan 2000. Ia merintis usaha itu bersama almarhum suaminya. Awalnya, ia hanya membuat sendiri rengginang untuk dibagi-bagikan secara gratis ke tetengga saat Lebaran.
Ketika ada tetangga yang bertamu ke rumahnya saat Lebaran, ia menggorengkan rengginang sebagai jamuan. Lama kelamaan ada beberapa tetangga yang memesan kue rengginag ketika menjelang Lebaran.
"Sejak saat itu saya mulai memproduksi rengginang untuk dijual," ujar perempuan berambut sebahu itu.
Bahan utama membuat rengginang beras ketan. Prosesnya, beras ketan direbus terlebih dulu. Ketika masih setengah matang, beras ketan diangkat lalu diberi bumbu trasi dan bawang. Kemudian direbus lagi sampai benar-benar matang.
Setelah matang, beras ketan yang sudah diberi bumbu itu dicetak. Tidak ada alat cetak untuk membuat rengginang. Proses pencetakannya secara manual menggunakan tangan. Bentuk rengginang satu dan satunya tidak harus sama persis.
"Yang penting bentuknya bulat," ujar Supini.
Menjelang Lebaran, rata-rata produksi rengginang Supini menghabiskan 100-150 kilogram beras ketan.
Jumlah itu naik dua kali lipat dibandingkan produksi harian. Pada hari biasa, rata-rata produksi rengginangnya hanya menghabiskab 50-70 kilogram beras ketan.
"Kalau menjelang Lebaran, barang sampai telat-telat. Seperti sekarang, pesanan masih ada tapi barangnya belum jadi," kata Supini.
Supini menjual rengginang dalam kondisi mentah tidak digoreng dulu. Rengginang mentah itu ia jual Rp 16.000 per kilogram sampai Rp 17.000 per kilogram. Pemesannya dari Malang, Surabaya, Tulungangung, Kediri, dan Blitar sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-blitar-produksi-rengginang-blitar_20170611_181729.jpg)