Mendebarkan, RSI Jemursari Operasi Pasien Tumor Otak Dalam Keadaan Sadar

Operasi berbahaya ini mengingatkan dengan Drama Korea ‘Doctors’ yang pernah hits dan dimainakn oleh Park Shin Hye dengan Kim Rae Won.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Mujib Anwar
SURYA/SULVI SOFIANA
Pasien yang didiagnosa tumor otak saat menyiapkan diri untuk operasi dengan teknik awake craniotomy atau bedah saraf waktu keadaan pasien sadar yang dilakukan di RSI Jemursari, Surabaya, Selasa (11/7/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Masih ingat dengan Drama Korea ‘Doctors’ yang pernah hits dan dimainakn oleh Park Shin Hye dengan Kim Rae Won?.

Dalam film yang mengisahkan tentang kehidupan dokter itu pernah menampilkan operasi pada syaraf otaknya dalam keadaan sadar.

Kali ini, Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya memiliki kesempatan melakukan operasi yang terbilang langka di Indonesia ini.

Dengan perlengkapan baru rumah sakit, operasi ini dilakukan pada pasien berusia 24 tahun yang didiagnosa tumor otak.

Baca: Inilah Pasien Tumor Otak yang Minta Dioperasi Dalam Keadaan Sadar

Dr Irwan Barlian SpBS (K), pimpinan operasi menjelasan operasi ini dilakukan dengan menggunakan teknik anestesi yang masih jarang dilakukan di Indonesia.

Bahkan di Surabaya baru pernah dilakukan sekali di RSUD Dr Soetomo. Yaitu teknik awake craniotomy atau bedah saraf waktu keadaan pasien sadar.

“Teknik awake craniotomy ini untuk memastikan batas antara jaringan otak normal bersama tumor. Sehingga untuk melihat reaksi tersebut, pasien akan dibangunkan saat operasi pengangkatan tumor sudah siap dilaksanakan,” ujarnya, sebelum memulai operasi yang diperkirakan memakan waktu 6 hingga 7 jam.

Baca: Tidak Bisa Ikut Besarkan Anak Cucu, Mantan Gubernur Terkuat Luluh dan Menghiba

Tingkat keberhasilan dan keamanan operasi dengan cara ini menurut dr Irwan lebih tinggi dibandingkan cara konvensional.

Sebab, bisa jaringan otak normal bisa terdeteksi dan dipertahankan, dan jaringan tumor yang diambil akan lebih banyak.

“Kalau kasus tumor masih jarang dilakukan, paling banyak kasus parkinson (kerusakan otak dan saraf progresif yang mempengaruhi gerakan) yang dikerjakan dengan teknik ini,” jelas spesialis bedah syaraf ini.

Waktu operasi, gerak sensorik pasien diamati. Yaitu dengan diminta untuk menggerakkan tangan atau kaki, berkata ataupun melakukan aktivitas lain serasi fungsi lokasi otak di sekitar tumor.

Baca: Santri Pondok Pesantren ini Empat Kali Gasak Kotak Amal Masjid, Alasan Mencuri Bikin Terenyuh

Selain itu fungsi motorik, berfikir dan lainnya juga di tes untk memastikan keadaan otak berjalan normal.

“Gejala tumor yang diderita pasien ini masih minimal, hanya nyeri kepala, gangguan berfikir, bicara. Selain itu masih motoriknya biasa. Harapannya setelah operasi juga masih dalam keadaan prima,” ungkapnya.

Selain itu, tumor pada pasien juga belum bisa dilihat dengan batasan yang jelas. Dr Irwan memperkirakan diameter tumor tersebut sudah mencapai 4 sentimeter.

Hanya saja, keberadaan tumor tersebut telah mengakibatkan pembengkakan otak di sekeliling tumor.

Baca: Guru Besar UM ini Diangkat Jadi Deputi UKP Pembinaan Ideologi Pancasila, Inilah Tugas Beratnya

“Jaringan sekeliling tumor memang akan bereaksi dengan bengkak ini, makanya banyak fungsi yang berubah, seperti pengelihatan berpikir,” jelasnya.

Dr Teddy Apriawan SpBS, Asisten Dokter selam operasi menambahkan, operasi ini menjadi operasi pada pasien dalam keadaan sadar yang pertama kali dilakukan RSI Jemursari.

Beberapa tim yang terlibat dalam operasi ini diantaranya tim anestesi, tim intramotorik monitoring, dan tim bedah syaraf.

Anestesi yang memberikan bius untuk menidurkan pasien sementara selama persiapan oprasi. Tim intramotorik monitoring akan memasang semua alat untuk mengetahui fungsi gerakan, bahasa dan pusat-pusat emosi.

Baca: Pemkot Batu Sulap Gedung Pertemuan Mewah ini jadi Kebun Binatang Mini

Terakhir tim bedah syaraf yang akan melakukan pengangkatan tumor dalam keadaan sadar.

“Setelah persiapan tim anestesi dan intramotorik monitorings elesai, pasien akan dibangunkan dan dimulai pengangkatan tumor. Jadi pasien sadar dengan kondisi kepala terbuka, dan tim intramotorik monitoring akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan keadaan jaringan normal tidak terambil,” tegasnya.

Usai proses pengambilan tumor, pasien akan kembali ditidurkan untuk proses penutupan luka operasi. (Surya/Sulvi Sofiana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved