Banjir Porong Membawa Berkah Bagi Driver Dadakan, Ini Hasil Yang Mereka Dapatkan

Bahkan, dari penelusuran Surya, ada beberapa driver dadakan ini yang mendapatkan untung Rp 5 juta.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Yoni Iskandar
Surya/Galih Lintartika
Hendrik saat mengantarkan penumpang ke Surabaya. Ia merupakan driver dadakan yang meraup banyak keuntungan dari banjir Porong. 

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Banjir yang merendam rel Kereta Api (KA) di Jalan Raya Porong, Sidoarjo ternyata tidak hanya meninggalkan duka tapi juga bahagia.

Sebagian orang berduka karena perjalanan mereka dari Surabaya atau sebaliknya menuju ke Surabaya terganggu akibat Kereta tidak bisa melintas di perlintasan Porong.

Tapi ada juga yang justru meraup untung dari kejadian ini.

Beberapa orang justru banting setir dan menjadi sopir travel dadakan. Mereka menunggu penumpang di Stasiun Bangil, hasilnya pun luar biasa.

Per hari, masing - masing travel dadakan ini meraup untung jutaaan. Bahkan, dari penelusuran Surya, ada beberapa driver dadakan ini yang mendapatkan untung Rp 5 juta.

Bagi driver dadakan, kondisi ini bak durian runtuh yang datang di saat musim hujan.

Hendrik, salah satu driver dadakan, mengaku sudah dua hari bertahan di Stasiun Bangil ini. Ia mengaku menunggu penumpan Kereta Api (KA) yang enggan naik bus jemputan oleh KAI.

Sekadar diketahui perjalanan KAI dari Banyuwangi atau Jember ke Surabaya atau sebaliknya itu hanya berhenti di Stasiun Bangil karena perlintasan KA di Porong tidak bisa dilalui.

Nah, konsekuensinya, KAI menyediakan bus untuk antar jemput penumpang dari Surabaya ke Bangil atau sebaliknya. Namun, jumlah bus yang disediakan ini terbatas dan penumpang harus menunggu giliran.

"Banyak penumpang yang tidak sabar menunggu bus jemputan, karena ditunggu pekerjaan atau keluarga. Makanya mereka memilih menyewa mobil kami atau naik kendaraan umum," kata Hendrik.

Hendrik menjelaskan, setiap hari, dirinya bisa empat pulang - pergi mengantarkan penumpang KA. Bisa ke Surabaya, Juanda, atau Malang.

Ia biasanya mulai stand by sejak pagi selepas shubuh.

"Allhamdulillah ya lumayan banyak lah. Ada penghasilan tambahan dari dampak penutupan rel Porong," kata pria yang setiap hari berjualan di sebuah kantin instansi di Pasuruan.

Ia mengatakan, per hari , minimal bersih mendapatkan untung Rp 1 juta. Hal itu sangat luar biasa bagi dia. Sebab, ini bisa menjadi tambahan untuk keperluan keluarganya.

"Istrinya saya yang jualan. Saya sudah di sini. Kalau ditanya sampai kapan, ya sampai rel sudah dibuka. Lumayan loh hasilnya sangat banyak sekali setiap hari," kata Hendrik sambil tersenyum.

Ia mengatakan, tarifnya, ini berbeda. Tergantung jaraknya. Semakin panjang dan jauh jaraknya, otomatis semakin mahal.

"Bangil - Surabaya bisa Rp 300.000, kalau ke Juanda beda lagi. Ke Malang juga beda lagi tarifnya," paparnya.

Ulum, salah satu driver lainnya mengakui hal yang sama. Ia mengaku bisa meraup untung lebih dari Rp 5 juta.

Akibat Bencana Gunung Agung di Bali, Pelindo III Shifting Kapal Pesiar Asal Eropa

Namun, ia tidak sendirian, dibantu dengan beberapa temannya yang kebetulan juga bisa menyopir.

"Saya beberapa teman. Tapi saya yang kasih mobilnya. Saya sendiri pun juga ikut jadi sopir dadakan ini sudah dua hari," akunya.

Kata dia, momen seperti ini tidak boleh dilewatkan. Ia mengaku akan memaksimalkan kesempatan ini untuk dijadikan sebagai lahan pendapatan.

"Bukan berharap rel untuk terus terendam banjir, tapi semisal masih banjir saya jujur masih akan di sini. Kalau sudah tidak banjir saya kembali lagi menjadi sopir travelan," pungkas dia. (Surya/Galih Lintartika)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved