Seharusnya Selamat dari Bencana di Pacitan, Pria Ini Malah Tewas, Istri Ungkap Perbuatannya di Kamar
Saat musibah itu berlangsung. Satiman malah berada di dalam kamar. Sang istri ungkap kelakuannya.
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Januar
Pencarian dilakukan scara manual, menggunakan cangkul, linggis, dan gergaji.
Dikatakannya, pihaknya kesulitan meminta bantuan pihak SAR lantaran komunikasi di Desa Penggung dan akses menuju Desa Penggung tertutup longsor.
Tidak mudah saat melakukan pencarian Jasad Satiman.
Sebab akses menuju ke rumah Satiman tertutup longsoran.
Warga juga harus waspada, karena tanah di sekitar lokasi masih begerak dan rumah Satiman berada di bawah bukit.
Warga khawatir ada longsor susulan karena cuaca di dusun Penggung juga berubah-ubah.
"Lamanya pencarian dikarenakan lokasi masih sangat berbahaya, kami harus berhati-hati. Apalagi hujan tidak menentu," kata Winarso.
Rumah Satiman berasa sekitar delapan kilometer dari Kantor Desa Penggung.
Tidak mudah untuk mencapai lokasi longsor karena banyak longsoran di jalan menuju lokasi.
Ia mengatakan, pria berusia 65 tahun tersebut tinggal di rumah dua lantai bersama istrinya Tinah, anak perempuannya Darsi, menantunya Seno dan cucunya Ariska. Istri dan anaknya mengalami patah tulang, dan saat ini dibawa ke rumah sakit di Solo.
"Tangan kanannya istrinya patah. Anaknya juga mengalami patah tulang, karena sempat tertimbun longsoran," katanya.
Dia menceritakan, semula Satiman sudah berlari keluar bersama istrinya namun kembali masuk ke dalam rumah.
Diduga, Satiman kembali masuk ke rumah karena ingin mengambil harta perhiasan yang berada di dalam kamar.
"Sudah sempat keluar, tetapi masuk lagi. Kemungkinan mau mengambil perhiasan," katanya.
Winarso mengatakan, di Desa Penggung terdapat 689 pengungsi dari delapan dusun. Saat ini, para warga terdampak bencana mengungsi di 11 titik pengungsian.