Pria Ini Dirikan Sasana untuk Latihan Bela Diri dari Berbagai Dunia di Surabaya

Mix Martial Art (MMA) atau ajang seni bela diri bebas telah ada di Indonesia. Bahkan beberapa kejuaran juga telah ada di sini.

Penulis: Pradhitya Fauzi | Editor: Edwin Fajerial
TRIBUNJATIM.COM/PRADHITYA FAUZI
Beberapa orang sedang berlatih bela diri di Rumble Camp Surabaya, pada Jumat (19/1/2018) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pradhitya Fauzi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Mix Martial Art (MMA) atau ajang seni bela diri bebas telah ada di Indonesia.

Bahkan, beberapa kejuaraan skala lokal hingga nasional yang telah diselenggarakan di Ibu Kota Jakarta pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggila gulat.

 Jeffri Oktavian (33), pemilik Rumble Camp dan Rumble promotion mengaku memiliki impian untuk membesarkan olahraga MMA di kota pahlawan.

Impian dari pria asli Jombon, Yogyakarta yakni untuk membawa para petarung Muay Thay di campnya ke Thailand, tentunya untuk bertanding di negara asalnya.

Pria yang sudah enam tahun tinggal di Surabaya itu menyebutkan hal itu akan dirintisnya sedari dirinya telah memiliki komunitas dan camp yang telah diakui oleh pemerintah kota Surabaya.

"Kalau membicarakan tentang Muay Thay yang profesional, itu tidak dibawah pemerintah, harus memiliki label yang juga memiliki camp, karena camp itulah yang akan bertanggung jawab dan camp itu adalah filternya," ujar pria yang juga mencintai motor cross itu.

Pihaknya, selaku promotor juga tidak mungkin mengadakan pertandingan tanpa mengetahui kemampuan dari peserta tersebut.

"Misalnya ada orang daftar untuk mengikuti kelas tertentu, saya harus tanya kamu dari camp mana dan siapa pelatihnya," tegasnya.

Lalu, mengapa Jeffri melakukan menerapkan peraturan seperti itu?

Jeffri memaparkan, pihaknya atau pihak panitia harus mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab terhadap petarung tersebut di dalam pertandingan.

Bahkan, panitia juga harus tahu sejauh apa kelayakan para petarung yang akan bertanding tersebut seperti apa dan harus bertemu dengan pelatihnya.

"Harus dong, panitia harus tahu kualitas petarung yang akan bertanding seperti apa, makannya ada asosiasi dan campnya, harus berada di bawah asosiasi," tandas Jeffri.

Panitia juga akan memastikan camp yang turut serta dalam perlombaan bukanlah camp yang liar yang tidak memiliki asosiasi serta diakui MPI.

"Bukan berarti yang tidak ada itu tidak benar, tapi demi pertanggung jawaban bilamana ada suatu hal yang tidak diinginkan dalam pertandingan dan bisa mengetahui setinggi apa kualitas dari petarung itu," bebernya. Kamis (18/1/2018)

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved