Mengenal Terapi Cuci Otak, Metode 'Pengobatan' Dokter Terawan yang Dikecam dan Salahi Prosedur
Brigjen TNI dr Terawan Agus Putranto dan metode pengobatan terapi 'cuci otak' nya kini menjadi sorotan. Sebenarnya, amankah terapi cuci otak?
Penulis: Ani Susanti | Editor: Alga W
TRIBUNJATIM.COM - Brigjen TNI dr Terawan Agus Putranto dan metode pengobatan terapi 'cuci otak' nya kini menjadi sorotan.
Kepala RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto tersebut mendapatkan sanksi keras berupa pencabutan izin praktik selama 12 bulan akibat terapi pencucian otak yang ia terapkan.
Keputusan IDI diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI menilai bahwa Dokter Terawan telah melakukan pelanggaran etika kedokteran.
Ketua MKEK IDI, Prio Sidipratomo, dalam surat PB IDI yang ditujukan kepada Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Seluruh Indonesia (PDSRI) menyatakan bahwa dokter Terawan telah melakukan pelanggaran etik serius.
"Bobot pelanggaran Dokter Terawan adalah berat, serious ethical missconduct. Pelanggaran etik serius," sebutnya.
Andika Kangen Band Digoda Lucinta Luna hingga Reaksi Genit Ayu Ting Ting Dielus Hotman Paris

7 Fakta tentang Sukmawati Soekarnoputri, Putri Presiden Soekarno yang Puisinya Kontroversial
Lalu, apa sebenarnya terapi cuci otak tersebut, dan amankah untuk dilakukan?
Berikut ulasannya dilansir dari Grid.ID, Kompas.com, dan Tribunnews.com:
6 Fakta Pemecatan Dokter Cuci Otak Terawan, Metodenya Diklaim Sudah Sembuhkan 40 Ribu Pasien
1. Awal mula
Terapi cuci otak bermula dari sebuah metode diagnosa penyakit yang disebut Digital Substraction Angiography (DSA).
Digital Substraction Angiography (DSA) merupakan metode diagnosa penyakit yang memaparkan gambaran lumen (permukaan bagian dalam) pembuluh darah, termasuk arteri, vena, dan serambi jantung.
Gambar ini diperoleh menggunakan mesin Sinar-X berbekal bantuan komputer yang rumit.
Viral Puisi Sukmawati Soekarnoputri Disebut Lecehkan Agama, Ini Jawaban Tegas Sang Anak Paundrakarna
2. Modifikasi Dokter Terawan
Metode Digital Substraction Angiography (DSA) yang awalnya bertujuan untuk mencegah paparan radiasi, oleh dr Terawan dimodifikasi menjadi metode diagnosa pembuluh darah.
Tidak sedikit orang yang mengikuti terapi cuci otak yang diperkenalkan oleh Dokter Spesialis Radiologi dari RSPAD Gatot Subroto itu.
Puisi-puisi Balasan Netizen Atas Puisi Sukmawati Soekarnoputri Ibu Indonesia yang Kontroversial
3. Penjelasan dari Dokter Terawan
Dokter Terawan menjelaskan metode cuci otak itu secara ringkas.
Menurutnya, metode tersebut adalah memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha penderita stroke.
Beda 20 Tahun, Intip 10 Momen Mesra Baby Margaretha dan Christian Bradach Pra Menikah, No 9 Ngeri!
Ini dilakukan untuk melihat, apakah ada penyumbatan pembuluh darah di area otak yang dapat mengakibatkan aliran darah ke otak bisa macet.
Aliran darah yang terhenti menyebabkan saraf tubuh tidak bisa bekerja dengan baik hingga menyebabkan stroke.
Sumbatan itu lewat metode DSA kemudian dibersihkan, sehingga pembuluh darah kembali bersih dan aliran darah pun normal kembali.
Pembersihan sumbatan dapat dilakukan mulai ari pemasangan balon di jaringan otak (transcranial LED), yang kemudian dibantu terapi.
Tak Cuma Baby Margaretha, 6 Artis Ini Juga Menikahi Pria yang Lebih Tua, Ada yang Beda 27 Tahun!
Ada juga cara lain memasukkan cairan Heparin yang bisa memberi pengaruh pada pembuluh darah.
Cairan itu juga menimbulkan efek anti pembekuan darah di pembuluh darah.
"Ada banyak pasien yang merasa sembuh atau diringankan oleh terapi cuci otak itu," jelas Terawan dikutip dari TribunSolo.com.
5 Alasan Kisah Cinta Rumit Adora, Alina, dan Hilman Viral di Internet dan Bikin Netizen Penasaran!
4. Biaya
Dilansir dari Warta Kota, Dokter Terawan sudah menerapkan metode ini sejak tahun 2005.
Dia mengatakan telah menangani sekitar 40.000 pasien.
Tak banyak muncul komplain dari masyarakat dan dia menganggap sebagai bukti kevalidan metode yang diterapkannya.
Dulu Pernikahan Dininya Hanya Bertahan 2 Tahun, Kini Artis Ini Harmonis 9 Tahun dengan Pria Lain
Bahkan cukup banyak tokoh sudah mencoba metode DSA itu.
Seperti mantan Wapres Try Sutrisno, mantan kepala BIN Hendropriyono, tokoh pers Dahlan Iskan dan istri, serta sejumlah figur publik lainnya.
Biayanya antara paling murah Rp 30 juta per pasien.
Tapi ada juga yang menyebut bisa Rp 100 juta per pasien.
Disebut Artis yang Pernah Jadi Korban Lucinta Luna, YouTuber Ini Diserbu Netter Gegara Inisial H
5. Amankah dilakukan?
Sejak beberapa tahun silam, terapi dengan modifikasi Digital Subtraction Angiography (DSA) ini telah ditentang oleh sejumlah dokter ahli saraf.
Dokter Spesialis Saraf Fritz Sumantri Usman menjelaskan, DSA selama ini hanya digunakan untuk diagnosa kelainan pembuluh darah di otak, bukan untuk terapi, apalagi mencegah stroke.
DSA pun tak bisa dilakukan kepada sembarangan orang, harus ada indikasi medis terlebih dahulu sebelum dilakukan DSA.
Potret Cantik Brigadir Popy Puspasari yang Menyamar Jadi PSK di Bali, No 3 Saat Rambut Masih Panjang
"DSA bisa dilakukan apabila sudah terkena serangan stroke berulang. Atau serangan stroke dengan faktor risiko tertentu, seperti kencing manis, jantung, hipertensi, hingga stroke di usia muda," jelas Fritz di sela-sela seminar Neurointervensi di Jakarta Kamis (17/12/2015) lalu, dikutip dari Kompas.com.
DSA dilakukan hanya untuk mengetahui apakah ada kelainan pembuluh darah di otak.
Ditegaskan Fritz, bukan untuk pengobatan stroke, misalnya menghilangkan sumbatan pembuluh darah di otak.
"DSA itu alat diagnosis gold standar untuk membidik kelainan pembuluh darah di otak," lanjut Fritz.
Begini Sosok Wulan Mayangsari Semasa Hidup, Mantan Backing Vocal Opick Hingga Keguguran 2 Kali
Sebelum DSA, biasanya telah dilakukan pengecekan dengan MRI atau CT Scan.
DSA tidak bisa dilakukan kepada seseorang yang tidak sakit.
Para dokter saraf tidak menyarankan pasien mengikuti terapi cuci otak yang metode dasarnya menggunakan DSA tersebut untuk mencegah terkena stroke atau menyembuhkan.
Apalagi, terapi cuci otak yang dikenalkan Terawan sekitar 3 tahun lalu itu belum dibuktikan secara ilmiah.
11 Gaun Terburuk Red Carpet Oscar 2018, dari yang Mirip Kemoceng Sampai Rumbai-rumbai Mengganggu
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (Perdosi), Hasan Machfoed mengatakan, tanpa penjelasan ilmiah dan uji klinik, modifikasi DSA untuk mengobati stroke tentu belum aman dilakukan pada manusia.
Ia khawatir, terapi cuci otak justru hanya akan menimbulkan komplikasi penyakit.
Menurut Hasan, terapi cuci otak jelas telah menyalahi prosedur dan kode etik kedokteran.
Oleh karena itu, metode Dokter Terawan dikecam dunia kedokteran dan kesehatan.
Selalu Berpakaian Terbuka, Artis Ini Sering Masuk Daftar Gaun Terburuk Ajang Penghargaan, No 2 Parah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ilustrasi-otak-dan-dokter-terawan_20180404_111016.jpg)