Kesehatan
Waspada Silent Killer Saat Tidur, Bahaya Sleep Apnea dan Mengapa Ngorok Bukan Tanda Tidur Nyenyak
Sleep apnea menjadi gangguan tidur yang kerap tidak disadari, padahal dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Sudarma Adi
Ringkasan Berita:
- Gejala Utama: Ngorok keras, pusing pagi hari, dan kantuk berlebihan di siang hari.
- Risiko Kesehatan: Hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
- Penyebab: Saluran napas tertutup yang menyebabkan henti napas berulang.
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nurika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sleep apnea menjadi gangguan tidur yang kerap tidak disadari, padahal dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Kondisi ini ditandai dengan kebiasaan ngorok hingga henti napas berulang saat tidur.
Padahal kondisi tersebut dapat menyebabkan kualitas istirahat menurun dan tubuh kekurangan oksigen.
Direktur Resindo Center For Healthy Sleep, Andini Ekawati menyebut masih banyak masyarakat yang belum menyadari risiko bahaya sleep apnea karena kejadiannya malam hari saat tertidur.
Baca juga: Pakai Alat Canggih dari Islandia, RS di Malang Atasi Pasien Gangguan Tidur, Insomnia hingga Ngorok
Gejala yang Sering Terabaikan
Gejalanya pun sering dianggap biasa. Yakni ngorok, bangun tidur tidak segar, hingga pusing.
“Orang sering tidak tahu sleep apnea itu apa. Tapi biasanya sadar kalau dirinya ngorok. Padahal pasien sleep apnea umumnya mengalami dengkuran keras, bangun tidur tidak segar, mudah mengantuk, bahkan pusing saat pagi hari,” ujar Andini, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, penderita sleep apnea sering merasa tidur cukup lama, namun mereka tidak sadar bahwa kualitas tidurnya buruk.
Akibatnya, tubuh tetap terasa lelah dan mudah mengantuk meski aktivitas baru dimulai pada pagi hari.
“Baru bangun pagi, beberapa jam kemudian sudah mengantuk lagi kalau tidak minum kopi. Banyak yang tidak sadar kalau kondisi ini berbahaya,” katanya.
Bahaya sleep apnea, dilanjutkan Andini, yakni henti nafas. Penderita kerap tidak menyadari bahwa kondisi “silent killer” ini dialmai saat tertidur.
Dalam kondisi tertentu, kadar oksigen dalam tubuh turun drastis, saluran nafas tertutup dan henti napas bisa terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam.
Proses ini disebut berhubungan erat dengan risiko penyakit jantung, hipertensi, hingga stroke.
“Ketika napas berhenti, oksigen tidak masuk optimal ke tubuh. Itu yang membuat sleep apnea berkaitan dengan gangguan jantung dan stroke,” jelasnya.
Ia menegaskan, sleep apnea tidak dapat disembuhkan hanya dengan obat-obatan. Penanganan dilakukan melalui perubahan gaya hidup, menjaga berat badan ideal, memperbaiki posisi tidur, hingga penggunaan alat bantu napas khusus saat tidur.
sleep apnea
ngorok
henti napas
kualitas tidur
Resindo Center For Healthy Sleep
penyakit jantung
TribunJatim.com
| Bahas AI hingga Kesehatan Mental, Forum IOMU 2026 di Surabaya Perkuat Perlindungan Pekerja Informal |
|
|---|
| Sering Lari? Berikut 4 Cedera Kaki dan Pergelangan Kaki yang Harus Diwaspadai |
|
|---|
| Kerja Overwork Rentan Kena Penyakit Jantung, Cegah Sejak Dini dengan Skrining |
|
|---|
| Hadapi Cuaca Ekstrem, Praktisi Herbal Ingatkan Pentingnya Jaga Titik Hangat agar Imunitas Tak Jebol |
|
|---|
| HUT ke-60 PERDOSKI: Ratusan Warga Surabaya Serbu Konsultasi Kulit & Estetika Gratis di Taman Bungkul |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Direktur-Resindo-Center-For-Healthy-Sleep-Andini-Ekawati.jpg)