Serangan Bom di Surabaya

Rektor Unair Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di GPPS Jalan Arjuna Punya IP per Semeter yang ‘Cantik’

Rektor Universitas Airlangga Surabaya menyebutkan pelaku bom bunuh diri di Surabaya punya Indeks Prestasi Komulatif (IPK).

Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Edwin Fajerial
IST
Keluarga Dita Supriyanto semasa hidup, pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya. 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Manik Priyo Prabowo

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Rektor Universitas Airlangga Surabaya menyebutkan pelaku bom bunuh diri di Surabaya punya Indeks Prestasi Komulatif (IPK) Cantik Semasa Kuliah Empat Semester.

Moh Nasih, Rektor Unair menjelaskan, mahasiswanya bernama Dita Suprianto adalah mahasiswa yang tak sempat lulus.

Hal tersebut dikarenakan Dita ini memiliki cacatan pendidikan yang buruk karena mendapatkan IP 1,1 dan tak pernah dapat IPK lebih dari dua.

“IPK mahasiswa ini (Dita) hanya 1,7. Kalau IP persemester itu cantik-cantik yakni 1,1 saja,” cetus Moh Nasih, pada Senin (14/5/2018).

Tak hanya itu, sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Dika harus memenuhi kuota mata kuliah dan IPK minimal 2,5.

Sebab, standart IPK selain sudah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan pada waktuy itu.

Adanya standar IPK ini juga membuat alumnus mudah mencari pekerjaan.

Istri Ahmadi, Korban Ledakan Bom di Gereja SMTB Surabaya, Sudah Bisa Bertemu Meski Sebentar )

Hanya saja, ayah empat anak yang bunuh diri satu keluarga dengan meledakkan bom ini tak pernah masuk kuliah.

“Gak pernah masuk kuliah dan IPK kecil apalagi SKS juga hanya 40. Jadi universitas memutuskan untuk mengeluarkan dia,” tandas Nasir.

Seperti yang diberitakan TribunJatim.com sebelumnya, Dita ini merupakan terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantikosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno, Minggu (13/5/2018) pagi.

Menurut daftar riwayat pelaku yang TribunJatim.com peroleh dari pihak kepolisian, Dita merupakan alumni SMP 4, SMA 5 , dan D3 Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Airlangga (Unair).

Hanya saja pihak Unair menjelaskan bahwa Dika ini mengambil jurusan Menejemen Perdagangan.

Selain tak pernah masuk kuliah, pelaku selama mengenyam studi di Unair ternyata juga tak aktif di kegiatan BEM maupun Senat.

Mengenal Bom Mother of Satan yang Digunakan Para Teroris di Surabaya, Berdaya Ledak Tinggi )

Bahkan adanya kegiatan religius di kalangan kampus pun pelaku tak pernah mengikutinya sekali pun.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved