Bahan Bakunya Jadi Perdebatan, Intip Rahasia di Balik Topi Hitam Ikonik Prajurit Kerajaan Inggris

Para prajurit Kerajaan Inggris selalu mengenakan topi hitam tinggi yang khas. Sebenarnya, apa rahasia di balik topi tersebut?

Tayang:
Editor: Agustina Widyastuti
Mirror.co.uk
Prajurit Kerajaan Inggris mengenakan topi hitam khas 

TRIBUNJATIM.COM - Dalam setiap perayaan atau acara yang digelar Istana Buckingham, selalu terlihat prajurit-prajurit berbaris.

Mereka selalu tampil ikonik dengan seragam merah, bayonet, dan topi yang sekilas terlihat seperti rambut palsu.

Saking tingginya, topi tersebut membuat kepala pemakainya terlihat lebih lonjong dan menjulang.

Bukan terbuat dari rambut palsu, topi ini justru dibuat dari bulu beruang.

Asyik, BI Jatim Layani Penukaran Uang Baru di Rest Area Tol

Beruang Hitam
Beruang Hitam ()

Topi tersebut pertama kali digunakan tentara Inggris pada tahun 1815 untuk melawan Perancis pada sebuah pertempuran di Waterloo.

Pertempuran inilah yang kemudian melahirkan konsep kedaulatan wilayah.

Pada pertempuran tersebut, tentara Perancis mengenakan topi yang lebih tinggi dari tentara Inggris.

Pemain Persela Lamongan Terancam Dipotong Gajinya Bila Tak Menjaga Kesehatan

Lalu Inggris mengadopsi bentuk topi tersebut khusus untuk prajurit yang bertugas di upacara-upacara kerajaan dan penjaga istana sebagai simbol atas kemenangan mereka.

Topi ini benar-benar terbuat dari kulit dan bulu beruang yang didapat dari Amerika Utara dan Kanada.

Setiap tahun, pemeritah Inggris membeli 50-100 kulit beruang dari Kanada saja, di mana suku Inuit memburunya.

Total pengeluaran yang dihabiskan mencapai 320 ribu poundsterling atau setara hampir enam milyar rupiah.

Topi kulit beruang ini tingginya mencapai 45 cm, sehingga terlihat begitu menjulang ketika dipakai.

Tulis Pesan Menyentuh, Gaston Castano Kenang Setahun Kepergian Julia Perez, My Angel

Untuk membuat satu topi saja, diperlukan satu beruang.

Bayangkan berapa beruang yang harus mati hanya untuk membuat topi.

Hal ini sebenarnya sudah ditentang banyak pihak, termasuk People for the Ethical Treatment of Animals (Peta) sejak tahun 2008.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved