Ki Harjito, Pelestari Wayang Krucil yang Alami Kejadian Mistis saat Pentas
Tak banyak dalang wayang krucil yang masih tersisa, Ki Harjito salah satu yang eksis ditengah deraan berbagai masalah dan degradasi seni budaya.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Tidak banyak dalang wayang krucil yang saat ini masih tersisa. Ki Harjito merupakan salah satu generasi dalang wayang krucil yang masih tetap eksis menekuni dunia seni warisan leluhur tersebut.
Darah seni sebagai dalang menurun dari orangtuanya Ki Sucipto Mur dan kakeknya Ki Atmo Sastro.
Di tengah arus modernisasi, pentas kesenian wayang krucil di masyarakat saat ini sudah mulai surut. Namun kesenian wayang krucil ini masih tetap eksis bertahan meski dengan tertatih.
Ki Harjito, merupakan salah satu dalang wayang krucil di Kediri yang masih tersisa. Karena tanggapan wayang krucil yang kian surut Ki Harjito juga menjadi dalang wayang kulit yang masih memiliki segmen penggemar yang banyak di masyarakat.
"Leluhur kami, orangtua dan kakek semuanya dalang juga wayang krucil," ungkap Ki Harjito.
Diakuinya sejak 1998, rating tanggapan untuk wayang krucil mulai menurun karena jarang ada yang nanggap. Namun wayang kulit masih memiliki penggemar di masyarakat.
Sehingga Ki Harjito selain menjadi spesialis dalang wayang krucil juga dalang wayang kulit. "Saya khan butuh hidup untuk berkesenian. Sehingga kami juga mendalang wayang kulit. Keduanya dapat kami jalani," tambahnya.
Apalagi keduanya sama-sama kesenian wayang, namun yang berbeda soal materi ceritanya. Kalau wayang kulit ceritanya berkisah tentang Ramayana dan Mahabarata.
Sedangkan wayang krucil materi cerita berkisah soal Cerita Panji dan Kerajaan Majapahit. Untuk sastra wayang krucil merupakan sastra tengahan atau bahasa ketoprak. "Kalau wayang kulit lebih banyak sastra inggilnya," jelasnya.
Diungkapkan operasional wayang kulit dan wayang krucil pada dasarnya hampir sama biayanya. Keduanya untuk penampilan semalam suntuk sama-sama menyewa sound system berikut kru penabuh gamelan.
"Kalau wayang kulit pasang tarif Rp 15 juta tak masalah. Namun untuk pentas wayang krucil pasang tarif Rp 12 juta banyak yang protes," ungkap Ki Harjito.
Saat ini banyak pelaku budaya yang merusak tatanan biaya tanggapan wayang krucil. Karena ada pelaku budaya yang mau menerima tanggapan wayang krucil untuk pentas semalam suntuk dengan biaya hanya Rp 7 jutaan.
Padahal selain biaya untuk sound system, juga ada kru penabuh gamelan minimal 12 orang. Belum lagi sinden dan kru musik campursari.
Dijelaskan Ki Harjito, pada awalnya kru pentas wayang krucil semuanya laki-laki. Termasuk sindennya awalnya juga pria, namun sekarang sindennya lazimnya perempuan.
Selama menjadi dalang wayang krucil Ki Harjito telah mengalami beberapa kejadian berbau mistis. Salah satunya saat pentas di Desa Tegowangi beberapa tahun lalu tiba-tiba kelirnya ambruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ki-harjito-dalang-wayang-krucil-di-kediri_20180709_191455.jpg)