Program Bayar Pajak Pakai Sampah Bikin Kampung di Kota Mojokerto Makin Bersih
Kampung di Kota Mojokerto bisa disulap makin bersih dengan adanya Program Bayar Pajak Pakai Sampah.
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Berbagai macam cara dilakukan untuk menumbuhkan rasa kepedulian akan kebersihan lingkungan pada masyarakat.
Demikian juga dengan Pemerintah Kota Mojokerto yang memilih strategi program Bapak Samerto (Bayar Pajak Pakai Sampah di Kota Mojokerto). Program ini sudah dilakukan sejak akhir tahun 2016.
Warga Kota Mojokerto dapat membayar pajak dengan menggunakan sampah rumahan yang telah dikumpulkan. Lalu Selanjutnya disetorkan ke bank sampah yang berada di lingkungannya.
Namun, bukan berarti sampah tersebut digunakan sebagai pengganti uang tunai. Melainkan, dijual terlebih dahulu ke pengepul oleh Bank Sampah Induk. Tentunya sampah yang dikumpulkan harus bersifat ekonomis.
• Pelajari Arsitektur Kampung Surabaya, Puluhan Dosen & Mahasiswa Asing Tertarik Larangan Motor Lewat
Setelah sampah itu terjual baru kemudian hasilnya dimasukkan dan dicatat ke dalam tabungan bank sampah. Menginjak pertengahan tahun uang dari hasil mengumpulkan sampah tiap anggota bank sampah disetorkan ke Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Pemkot Mojokerto, untuk membayar pajak bumi dan bangunan (PBB).
Meski program tersebut sudah berjalan dua tahun, semangat masyarakat Kota Mojokerto dalam memanfaatkan program ini tidaklah surut. Mereka berlomba-lomba mengumpulkan sampah, supaya bisa mengurangi biaya pengeluaran untuk membayar pajak. Bahkan, tak mengeluarkan uang dari kantong sepeserpun.
Seperti yang dilakukan sejumlah ibu-ibu di lingkungan Balongcok RW 1, balongsari, Magersari, Kota Mojokerto. Sore hari, beberapa ibu-ibu terlihat menjinjing tas berisikan bermacam sampah, Kamis (11/10/2018). Mereka berjalan menuju Bank Sampah 'Setunggal' yang berada di pojok gang.
• BREAKING NEWS- Stadion Surajaya Markas Persela Lamongan Terbakar Hebat
Sesampainya di sana, mereka mengeluarkan satu persatu sampah. Dihadapan mereka, ada pengurus Bank Sampah 'Setunggal' sedang melakukan pemilahan dan pemotongan sampah dengan menggunakan gunting.
Sisprihatin Edy (52) selaku Ketua Pelaksana Bank Sampah mengatakan, program Bapak Samerto sangat membantu meringankan biaya pengeluaran. Selain itu juga berdampak pada kebersihan lingkungan.
"Program Bapak Samerto sangat membantu dari segi keuangan dan kebersihan. Segi ekonomi juga, kami bisa membuat keterampilan dari sampah yang laik jual," katanya.
Bank Sampah yang berdiri sejak tahun 2015 ini telah memiliki 80 anggota. Dari 80 warga itu, 60 orang mengikuti program Bapak Samerto.
Sisprihatin selalu mensosialisasikan terkait program Bapak Samerto kepada warga saat pertemuan PKK, agar warga dapat memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Warga yang tidak ikut merupakan warga musiman atau mengontrak," ucapnya.
• Massa Pendekar di Tulungagung Serang Kampung & Bakar Motor Tak Diproses, Ribuan Warga Protes Polisi
Setiap bulan, warga RW 1 dapat mengumpulkan sampah sebanyak 120 kg. Ia menyebutkan, sampah yang harus dikumpulkan warga merupakan jenis sampah kering diantaranya, kertas, plastik koran, dan kardus.
"Sampah itu kami pilah lagi, karena masing-masing harganya beda. botol plastik berwarna dan botol putih misalnya, Botol berwarna lebih murah sekitar Rp 3.000 per kilo, sedang harga botol putih Rp 9.000. saat ini harga kardus dan karton sedang turun. Kami belum tahu pasti berapa penurunannya," terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/bank-sampah-setunggal-di-lingkungan-balongcok-balongsari-kota-mojokerto_20181012_100133.jpg)