VIDEO - Kaki Belum Sembuh, Risma Akhirnya Terpaksa Naik Kursi Lift Yang Dipasangnya 4 Tahun Lalu
Gara-gara kakinya belum sembuh, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terpaksa naik kursi lift Balai Kota Surabaya yang sudah dipasangnya sejak 2016.
Penulis: Aqwamit Torik | Editor: Adi Sasono
Dari hasil MRI, dokter menemukan di sisi kaki bagian kanan dan kiri ada semacam sobekan atau kelonggaran berdiameter sekitar 6-7 milimeter.
“Kerobekan di kaki kanan 6 milimeter sedangkan kaki kiri 7 milimeter. Dokter menganjurkan agar ibu tidak melakukan aktivitas, tapi beliau tetap melakukan pekerjaan administrasi serta memantau perkembangan kota lewat gadgetnya,” kata M Fikser, Kabag Humas Pemerintah Kota Surabaya, Kamis (13/12/2018) lalu.
Sejak saat itu, Wali Kota Risma terlihat jarang melakukan kegiatan di lapangan, hingga ada kecelakaan amblesnya Jalan Gubeng Surabaya, Selasa (18/12/2018)
Ihwal Kursi Lift
Kursi khusus ini terpasang sejak Minggu (31/7/2016) di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Kursi ini dipasang untuk melayani kebutuhan penyandang disabilitas yang ingin masuk Balai Kota Surabaya.
Kursi bewarna coklat muda ini, dilengkapi dengan seat belt serta tombol pengontrol untuk mengoperasikan naik dan turun.
Kursi ini mampu mengangkat beban hingga 150 kg.
• Terinspirasi Kakek, Alumnus STTS Kembangkan Kursi Roda Listrik Dengan Detektor Suara
• Pria Asal Kota Mojokerto ini Ciptakan Kursi Roda Dikendalikan Melalui Ponsel Pintar
• Penumpang Lansia Disiapkan Kursi Roda di Terminal Purabaya
Kepala Bagian Umum dan Protokol Pemkot Surabaya Wiwiek Widiyanti mengatakan, nantinya kursi disabilitas akan dipasang di setiap kantor SKPD di lingkup Pemkot Surabaya.
Selain pemberian kursi khusus disabilitas di Kantor Balai Kota Surabaya, Pemkot terus memberikan fasilitas-fasilitas lainnya untuk para penyandang ini.
Seperti memberikan kemudahan di jalur pendestrian maupun di perkantoran dengan paku mata kucing, yang terbuat dari logam besi.
Kemudahan seperti inilah, yang mulai banyak dijumpai di sudut-sudut Kota Pahlawan.
Sebenarnya Risma ingin memasang lift untuk semakin mempermudah akses para penyandang disabilitas.
Namun keinginan itu terkendala status Balai Kota sebagai cagar budaya yang tidak boleh diubah bentuk aslinya.
"Kalau tak pasang lift gak bisa, karena aku tidak bisa ngerubah gedung ini (cagar budaya), kemarin sudah tak buatkan yang dibelakang untuk difabel, tapi itu bisa langsung naik sama kursi rodanya," jelas Risma.