Cerita Pelopor Kampung Bendera Darmokali Surabaya, Standarkan Ukuran Bendera Setelah Ditegur Pembeli
Inilah cerita pelopor Kampung Bendera Darmokali yang telah berjualan bendera sejak 1972 hingga standarkan ukuran bendera setela ditegur pembeli.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Arie Noer Rachmawati
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Kain merah dan putih telah lama memenuhi salah satu rumah di gang 3B jalan Darmokali.
Sejak tahun 1972 Rumah di kawasan RW 4 Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya tersebut menjadi tempat Masrukan (64) untuk memproduksi bendera merah putih.
Masrukan merupakan pelopor Kampung Bendera, ia menjadi produsen bendera pertama di kawasan tersebut.
Beragam jenis ukuran bendera telah ia buat, tak hanya memproduksi sendiri, ia juga memasok bendera dari konveksi di Bandung.
• Berkat Kampung Berseri Astra, Warga Kampung Kayu Besar Bisa Panen hingga Olah Jamur Setiap Hari
“Saya dulu orang rantau, awalnya jahit celana pendek. Kemudian diajak saudara jahit bendera. Sampai saya buka sendiri produksinya dan mulai dikenal banyak orang,” urainya bapak empat anak ini.
Dibantu istri dan sejumlah kerabatnya, ia terus memproduksi bendera sesuai pesanan.
Untuk menjahit sepenuhnya ia lakukan sendiri atau memasok dari konveksi di Bandung.
Sementara istri dan kerabatnya membantu melipat dan mengemas beragam jenis bendera di rumahnya tersebut.
“Awalnya dulu asal saja bikin bendera, sampai ada pembeli datang bawa meteran dan diukur benderanya ternyata nggak sesuai standar. Sejak saat itu saya selalu bikin bendera sesuai ukuran standar, karena ini juga lambang negara,” urainya.
• Kampung RW 9 Rungkut Asri Timur, Buat Suasana Lingkungan Asri Lewat Beragam Ruang Terbuka Hijau
Usahanya memproduksi bendera pun berkembang, beragam instansi pemerintah, perusahaan maupun penjual telah menjadi langganannya.
Iapun mengarahkan keempat anaknya untuk ikut mendistribusikan bendera yang diproduksinya.
“Kalau jadi pedagang nggak akan mungkin korupsi, makanya keempat anak saya saya arahkan berdagang juga. Ada yang punya toko di kampung ini juga. Ada juga yang di daerah lain,” ujarnya.
Berkat kesibukan berjualan bendera di rumah sejak anak-anaknya kecil, keempat anaknya secara alami sudah bisa mengikuti insting berdagang hingga mampu membeli rumah untuk keluarganya sendiri.
Solikin, anak Sulung Masrukan mengungkapkan sejak lulus sekolah ia diarahkan ayahnya untuk meneruskan usaha keluarganya.
• Kampung Kaya Inovasi di Surabaya, Warga Tambak Segaran Andalkan Kelompok Tani Buat Bisnis Hidroponik
Iapun tak keberatan meneruskan usaha keluarganya hingga saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/penjual-bendera-di-kampung-bendera-darmokali-surabaya.jpg)