Breaking News:

Petakan Wilayah, Pemerintah Terus Berupaya Menjaga Stabilitas Cabai Melalui Program Kementan 2019

emerintah melalui Kementrian Pertanian (Kementan) terus berupaya menjaga stabilisasi pangan, terutama cabai sebagai komponen penting bagi masyarakat.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Melia Luthfi Husnika
ISTIMEWA
Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto (batik coklat) ketika memantau tanaman cabai di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Sabtu (3/8/2019) Blitar. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Pemerintah melalui Kementrian Pertanian (Kementan) terus berupaya menjaga stabilisasi pangan, terutama cabai sebagai komponen penting bagi masyarakat.

Upaya menjaga stabilisasi cabai tersebut diwujudkan melalui Program Kementerian Pertanian 2019, dimana cabai diberikan dalam beberapa komponen.

Komponen tersebut di antaranya cabai dengan benih bersertifikat, pupuk organik terdaftar, dolomit, mulsa, bahan pengendali OPT (feromon/antraktan, perangkat likat berwarna, agens hayati berstandar mutu).

Harga Cabai di Surabaya Tembus Rp 80 Ribu/kilo, Disperindag Jatim dan Bulog Gelar Operasi Murah

"Pak Mentan meminta turun ke lapangan karena inflasi 0,1 persen dinilai tinggi," ujar Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Blitar, Jatim, Sabtu (3/8/2019).

Sedangkan Jatim perlu ditengok karena wilayah ini penyangga nasional.

"Sementara Jakarta menjadi indikator akibat imbas harga. Di sini saya ingin mendorong pola tanam," imbuhnya

Ke depan, lanjut Prihasto, akan dipantau pola tanam berbasis kebutuhan.

Cabai Rawit Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar di Kota Malang

Tiap daerah dipetakan berapa jumlah konsumsi yang diperlukan melalui aplikasi online. Pola ini diyakini mampu menjaga kuantitas produksi sesuai dengan besaran kebutuhan.

Peta produksi berbasis kebutuhan riil ini akan digunakan sebagai bahan sosialisasi ke daerah-daerah untuk memberitahukan berapa besaran pertanaman yang dibutuhkan. Dengan pemetaan tersebut, gejolak harga akibat minimnya produksi akan bisa dihindari.

“Peta produksi cabai ini bisa juga bisa digunakan untuk mengenal kondisi. Misalnya, kabupaten A kekurangan hasil produksi, sedangkan kabupaten B kelebihan produksi, maka kedua kabupaten dapat saling mengisi. Dengan adanya peta ini, diharapkan cabai jadi selalu tersedia di pasar," terang Anton.

Dinas Petanian Jatim Akan Atur Musim Tanam Petani Cabai, Pertengahan Bulan Harga Akan Turun

Hal penting yang menjadi perhatian dirinya adalah pemilihan benih bermutu. Kendatipun mempergunakan benih lokal, poin pentingnya adalah cermat memilih asal benih.

Komoditas cabai rentan serangan virus gemini. Apabila tanaman asal sudah terkena, apabila benihnya sudah mengandung virus tersebut, maka secara otomatis penyakit tersebut sudah ada di dalamnya

"Perhatikan kedua jenis cabai ini. Secara fisik tidak bisa dibedakan mana yang terkena virusnya, meski kita tahu asal tanamannya sudah terserang. Ini jangan ditanam," perintah pria akrab dipanggil Anton ini.

Dirinya menerangkan, hasil penelitian mengungkapkan jika memakai benih cabai yang terserang virus ini nantinya produksi tanaman akan menurun drastis. Penurunan bisa mencapai 50 persen dan lama masa panen juga ikut berkurang.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved