Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Ketua GOI : Pancasila Dasar Negara yang Selaras dengan Keharmonisan Umat Beragama

Di momen HUT Kemerdekaan RI ini sangat tepat untuk menghayati Pancasila yang merupakan filsafat bangsa, terlebih lagi Pancasila

Penulis: Aqwamit Torik | Editor: Yoni Iskandar
ISTIMEWA
Dhimas Anugrah selaku Politisi PSI yang namanya juga masuk dalam bursa Pilwali Surabaya 2020. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aqwamit Torik

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Di momen HUT Kemerdekaan RI ini sangat tepat untuk menghayati Pancasila yang merupakan filsafat bangsa, terlebih lagi Pancasila dalam keselarasan dan keharmonisan antar umat beragama.

Ketua Bidang Hubungan Antarumat Beragama Generasi Optimis Indonesia (GOI) Dhimas Anugrah mengungkapkan Pancasila bukan ideologi yang bertentangan dengan nilai religius.

"Justru Pancasila membuat negara menempatkan nilai ketuhanan sebagai fundamen etis bagi kehidupan berbangsa," jelas Dhimas.

Dhimas menambahkan, hal tersebut yang mendorong Presiden Soekarno menempatkan ketuhanan sebagai akar dari Sila kenegaraan.

"Walau waktu itu letaknya sebagai sila kelima, tetapi itu justru menjadikan ketuhanan sebagai dasar bagi semua sila di atasnya, yaitu kebangsaan, kemanusiaan, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat," ujar Dhimas yang juga masuk dalam bursa Pilwali Surabaya 2020 tersebut.

Selain itu, Dhimas Anugrah mengutip seorang filsuf Indonesia bahwa Pancasila memiliki dua dimensi, yakni dimensi politik dan dimensi etis.

Massa Bergeser dari Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya

Madura United vs Persija Jakarta, Laskar Sapeh Kerab Ditahan Imbang Persija 2-2 di Akhir Laga

Upacara di Puncak Gunung Penanggungan Mojokerto, Pendaki Siapkan Bendera Merah Putih 200 Meter

Ia menambahkan, dua dimensi tersebut membuat negara otonom terhadap agama. Artinya, pengaturan agama dan Tuhan bukanlah urusan langsung dari negara, tetapi proses bernegara dijalankan dengan rasa hormat dan takjub pada Tuhan Yang Maha Esa.

"Pola seperti ini diusulkan oleh Alfred Stephan sebagai hubungan toleransi kembar atau "twin tolerations" antara agama dan negara. Sehingga di Indonesia, menjadi umat beragama sekaligus menjadi warga negara yang menghayati Pancasila adalah sebuah keniscayaan," pungkas intelektual muda yang studi di Oxford Inggris itu.

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved