Jawaban Kejati Soal Penolakan PWNU Jatim Terkait Hukuman Kebiri untuk Predator Anak: Bukan Pilihan

Kejati Jatim langsung bereaksi atas penolakan dari PWNU Jatim soal hukuman kebiri bagi predator anak

Jawaban Kejati Soal Penolakan PWNU Jatim Terkait Hukuman Kebiri untuk Predator Anak: Bukan Pilihan
TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim, KH. Ahmad Asyhar Shofwan (memegang mikrofon) saat memberikan hasil bahtsul masail perihal hukuman kebiri di kantor PWNU Jatim, Kamis, (29/8/2019). 

Jawaban Kejati Soal Penolakan PWNU Jatim Terkait Hukuman Kebiri untuk Predator Anak: Bukan Pilihan

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA -Vonis kebiri yang dijatuhkan pada Muhamad Aris direspon oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Sunarta.

Menurutnya eksekusi kebiri dilakukan setelah hukuman pokoknya selesai.

"Jadi dia (terpidana) ini kan menerima vonis tambahan dari kabupaten (Mojokerto) 12 tahun dan di kotanya delapan tahun jadi 20 tahun. Sementara pelaksanaan kebiri dilaksanakan setelah hukuman pokoknya selesai. Sudah mau habis (masa tahanannya) baru dieksekusi," ujarnya saat ditemui di Gedung Kejati Jatim, Jumat, (30/8/2019).

Saat ditanya terkait negara wajib memulihkan terpidana setelah menjalani hukuman kebiri, Sunarta menjelaskan dirinya belum tahu lantaran masih perlu meneliti Memori Fantulitingnya.

Serta, riwayat keluarnya pasal yang dijatuhkan.

"Mengapa? pertimbangannya pasti secara medis sudah diperhitungkan. Secara medis katanya kalau disuntik itu akan lemah badannya, memang libidonya dihilangkan testosteronnya. Apakah itu sudah dihitung," jelasnya.

Namun dia memastikan pemerintah pasti telah mempersiapkan semuanya.

Adanya keberatan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), terkait hal tersebut, Sunarta mengaku masih menunggu SOP terlebih dahulu.

Halaman
1234
Penulis: Samsul Arifin
Editor: Januar AS
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved