Dorong Santri Banyuwangi Jadi Wirausaha Baru dengan Program Santriprenuer

Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih, di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Banyuwangi, Jumat (4/10).

Dorong Santri Banyuwangi Jadi Wirausaha Baru dengan Program Santriprenuer
Surya/Haorrahman
Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih, di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Banyuwangi, Jumat (4/10). 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Pementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong para santri untuk menjadi wirausaha, di lingkungan pondok pesantren melalui program Santripreneur.

Program ini bertujuan agar para lulusan pondok pesantren nanti dapat turut mendorong penumbuhan industri kecil dan menengah (IKM).

“Selama ini, kami terus melaksanakan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya pada pengembangan IKM di lembaga pendidikan keagamaan termasuk pondok pesantren,” kata Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih, di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Banyuwangi, Jumat (4/10).

Gati menjelaskan berdasarkan sensus Kementerian Agama di tahun 2014-2015, jumlah pondok pesantren di Indonesia diperkirakan sebanyak 28.961 yang tersebar di seluruh provinsi dengan total santri sekitar 4.028.660 santri.

Dari total 28.961 pondok pesantren, sekitar 23.331 pondok pesantren (80 persen) di antaranya tersebar di empat provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten.

“Dengan jumlah pondok pesantren dan santri yang cukup besar, pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional salah satunya melalui penumbuhan wirausaha industri baru di lingkungan pondok pesantren.” jelas Gati kepada Tribunjatim.com.

Peringati Hari Batik Nasional, Terminal Petikemas Surabaya Ajak Ratusan Wanita Mengenal Budaya Batik

Siap-siap, Air PDAM di Sejumlah Wilayah di Surabaya Ini Mati Malam Ini, Cek Lokasinya

Pabrik Uang Barbie Kumalasari Sampai Miliki Saldo ATM Rp 3 Miliar, Dari Mana Saja?

Program Penumbuhan Wirausaha Baru IKM di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan diberikan dalam bentuk bimbingan teknis serta fasilitasi mesin/peralatan produksi roti, yang dilaksanakan pada tanggal 3 – 6 Oktober 2019.

Selain pelaksanaan bimbingan teknis, Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian juga memberikan bantuan sebanyak 16 jenis mesin peralatan pengolahan roti.

“Fasilitasi ini kami berikan agar dapat dipergunakan untuk meningkatkan produktivitas para santri dalam pengolahan produksi roti.” ungkapnya.

Gati menambahkan, dalam implementasi Santripreneur, Kemenperin memiliki dua model penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di pondok pesantren, yaitu model Santri Berindustri dan Santri Berkreasi.

Santri Berindustri merupakan upaya pengembangan unit industri yang telah dimiliki oleh pondok pesantren maupun penumbuhan unit industri baru yang potensial.

“Cakupan ruang lingkup pembinaan kami di antaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin/peralatan di bidang olahan pangan dan minuman (roti dan kopi), perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair,” tambahnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, K.H. Masyukur Wardi, menyambut baik pelaksanaan program Santripreneur yang diinisiasi oleh Kemenperin.

"Ini dapat menambah kegiatan positif bagi para santri di lingkungan pondok. Selain itu, melalui usaha para santri nanti, diharapkan dapat berguna bagi masyarakat dalam menumbuhkan perekonomian daerah setempat seperti penyerapan tenaga kerja," kata Masyukur Wardi kepada Tribunjatim.com.

Pondok Pesantren ini memiliki 1.700 santri, juga memiliki unit usaha berupa Batik dan Pengolahan Sari Buah yang dihasilkan para santri di lingkungan pesantren. (haorrahman/Tribunjatim.com)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved