Obat Ranitidin Diduga Picu Kanker, Dinkes Tulungagung Beri Waktu Distributor untuk Tarik Produknya

Dinkes Tulungagung memberikan waktu distributor untuk menarik produk Ranitidin yang diduga memicu kanker

Obat Ranitidin Diduga Picu Kanker, Dinkes Tulungagung Beri Waktu Distributor untuk Tarik Produknya
Bukalapak
Ranitidin injeksi 25mg/ml. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Republik Indonesia menarik produk obat yang mengandung ranitidin, karena diduga bisa memicu kanker.

Ranitidin adalah obat golongan histamin-2 (H-2) blocker, yang diindikasikan untuk pengobatan dan pencegahan kelebihan produksi asam lambung, atau masyarakat umum menyebutnya sakit maag.

Ada lima produk dari 4 produsen yang diperintahkan untuk ditarik.

Lima produk itu adalah Ranitidine cairan injeksi 25 mg/ml dari PT Phapros, Zantac cairan injeksi 25mg/ml dari PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/ml PT Global Multi Pharmalab dan dua produk dari PT Indofarma, yaitu Indoran cairan injeksi 25mg/ml serta Ranitidine cairan injeksi 25mg/ml .

Picu Kanker, Obat Asam Lambung Ranitidine Dilarang Dikonsumsi, 5 Merek Obat Ditarik Peredarannya

“Dinkes sudah mengeluarkan surat edaran kepada fasilitas kesehatan dan sarana distribusi sediaan farmasi, agar menarik lima produk itu,” terang Kasi Perbekalan dan Farmasi Dinkes Tulungagung, Masduki.

Surat edaran itu memerintahkan para klinisi tidak meresepkan lima produuk ini.

Kepada distributor dan sarana pelayanan kefarmasian diperintahkan agar tidak mendistribusikan lima produk ini.

Selain itu juga wajib melakukan pendataan dan pengamanan setempat, menunggu penarikan dari pabrikan.

Lebih jauh Masduki mengungkapkan, dari semua fasilitas kesehatan milik Pemkab Tulungagung, tidak ada yang menggunakan lima produk itu.

Daftar Obat Lambung Ranitidin yang Ditarik BPOM, Terdeteksi Mengandung Zat Penyebab Kanker

“Berdasarkan e-katalog, kita tidak menggunakan lima produk obat itu. Jadi masih aman, tidak ada penarikan dari fasilitas kesehatan milik Pemkab,” sambung Masduki.

Karena itu Dinkes Tulungagung fokus untuk mengawasi peredaran lima obat ini di distributor dan sarana pelayanan kefarmasian, seperti apotek.

Jika sampai batas waktu yang ditentukan masih ditemukan lima obat ini, Dinkes Tulungagung akan melakukan penyitaan.

Sedangkan untuk pengganti ranitidin bisa menggunakan obat golongan pompaproton, seperti obat dengan kandungan omeprazol, lanzoprazol dan pantoprazol.

“Kalau di Indonesia, lima obat itu termasuk obat keras yang harus diresepkan oleh dokter,” pungkas Masduki. (Surya/David Yohanes)

Terungkap Sosok Pengemudi Hondra Brio yang Tabrak Rombong Bakso hingga Terpental, Usianya 80 Tahun

Yuk Subscribe YouTube Channel TribunJatim.com:

Penulis: David Yohanes
Editor: Arie Noer Rachmawati
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved