Keruk Embung dan Sungai, Pemkab Lamongan Telan Anggaran Rp 5, 6 Miliar
Pemkab Lamongan melakukan pengerukan 41 embung dan 8 sungai. Pengerukan dan normalisasi itu menelan total anggaran Rp 5,6 miliar.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM,LAMONGAN - Musim kemarau, setiap tahun berdampak cukup meluas. Tak hanya berakibat krisis air bersih, tapi juga kekeringan untuk pertanian.
Untuk menjaga tandon-tandon air sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian
Pemkab Lamongan melakukan pengerukan 41 embung dan 8 sungai. Pengerukan dan normalisasi itu menelan total anggaran Rp 5,6 miliar.
"Ini sebagai upaya untuk menjaga tandon-tandon air sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian," kata Bupati Lamongan, Fadeli kepada Tribunjatim.com, Kamis (17/10/2019).
Selain itu, 49 embung dna sungai ini sudah mengalami pendangkalan. Sehingga jika tidak dilakukan normalisasi, dikhawatirkan tidak mampu lagi menampung air saat musim penghujan dan bisa menyebabkan banjir.
Anggaran sebesar Rp 5,6 miliar itu sebagian besarnya, Rp 4,6 miliar untuk pengerukan embung. Sementara sisanya untuk pengerukan sungai.
• Tidak Hadir Lagi Dalam Saksi Kasus OTT, Sekda Gresik Terancam Dijemput Paksa Penyidik Kejari
• Persebaya Ganti Rugi Kursi Rusak di Markas Bali United Pasca Laga Final Liga 1 U-20 2019
• Seorang Mengaku Wartawan dan Advokat Dilaporkan ke Polres Batu setelah Korban Setor Rp 50 Juta
Embung desa yang dikeruk diantaranya yakni Embung Tlogoanyar Lamongan, Embung Desa Kedungsoko dan Embung Desa Tunggunjagir Kecamatan Mantup, serta Embung Desa Datinawong kecamatan Babat
Sedangkan di Kecamatan Tikung ada tujuh embung yang akan di keruk. Yakni Embung Banaran, Embung Langkir, Embung Takeran, Embung Kemendung, Embung Leboyo dan Embung Pilanggot serta Embung Mojoranu.
Untuk wilayah Utara ada Embung Desa Tunggul Kecamatan Paciran, dan Telaga Dusun Sekaran.
Sementara untuk sungai yang dikeruk meliputi sungai Kalipatih, Balongputih, Platukan dan Kawistolegi, Sumosari, serta Mertani di Kecamatan Karanggeneng. Kemudian untuk Kecamatan Kalitengah meliputi Sungai Mungli dan tunjungmekar.
Ditambahkan, dengan adanya pengerukan ini juga diharapkan dapat membantu para petani untuk irigasi pertanian.
“Dengan adanya pengerukan ini diharapkan dapat menampung air saat musim hujan. Sehingga bisa dimanfaatkan sebagai irigasi untuk pertanian,” katanya kepada Tribunjatim.com.
Sednagkan sampai tanggal 10 Oktober 2019 kondisi 44 Waduk dan Embung di Lamongan volumenya tinggal 1 persen. Dari total kapasitas 112.785.371 meter kubik, saat ini menyisakan 1.367.766 meter kubik.
Waduk yang masih menyisakan air adalah Waduk Gondang di Kecamatan Sugio tersisa 1.150.753 meter kubik, dari kapasitas maksimal 19.909.752 meter kubik.
Waduk Jajong di Kecamatan Laren hanya tersisa 100 ribu meter kubik dari kapasitas maksimal 951.600 meter kubik.
Sedangkan Waduk Prijetan di Kecamatan Kedungpring dari kapasitas maksimal 5.644.752 meter kubik tinggal tersisa 116.973 meter kubik. (Hanif Manshuri/Tribunjatim.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-lamongan-pengerukan-embung-dna-sungai-di-blitar.jpg)