Terdampak Polusi Batu Bara, Warga Gresik Minta Usaha Bongkar Muat Batu Bara Segera Relokasi

Warga terdampak polusi debu batu bara di wilayah Kecamatan Gresik protes meminta usaha bongkar muat batu bara di Pelabuhan Gresik dipindahkan, Kamis

Terdampak Polusi Batu Bara, Warga Gresik Minta Usaha Bongkar Muat Batu Bara Segera Relokasi
sugiyono/surya
Warga Kecamatan Gresik yang terdampak polusi batu bara protes ke PT GJT untuk segera relokasi, Jumat (8/11/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Warga terdampak polusi debu batu bara di wilayah Kecamatan Gresik protes meminta usaha bongkar muat batu bara di Pelabuhan Gresik dipindahkan, Kamis (8/11/2019).

Alasannya, warga terkena debu dan terancam kesehatannya.

Unjuk rasa dilakukan warga pada sore hari secara spontanitas. Warga berkumpul-kumpul di Jalan RE Martadinata. Kemudian, berkumpul ke wilayah Kelurahan Lumpur dekat parkiran wisata religi Makam Sunan Syeh Maulana Malik Ibrahim.

Kemudian, massa yang tergabung dari tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Lumpur, Kemuteran dan Kroman berjalan menuju Kantor PT Gresik Jasatama (GJT) yang hanya berjarak tidak lebih satu kilometer.

Massa yang terdiri dari anak-anak, Ibu-ibu dan Bapak-bapak berjalan dengan membantangkan spanduk bertuliskan 'Kami menolak Batu Bara di Desa Kami. Ada juga yang berbunyi 'Berhenti Kecanduan Batu Bara'.

Dalam unjuk rasa tersebut karena warga sudah kesal dengan keberadaan polusi debu batu bara. Sehingga, rumah warga selalu diwarnai debu batu bara dan kesehatan masyarakat selalu terancam sebab menghirup udara yang bercampur debu batu bara.

PENGAKUAN Istri Surono di Kasus Jasad Pria Jember Dicor, Jawaban Korban Bikin Busani Rela Suami Mati

Pasar Ngunut Tulungagung Terbakar Hebat, Ledakan Terdengar Berulang Kali dari Atap Kios Pasar

Hamka Hamzah Beberkan Rencananya Untuk Pensiun Jadi Pemain Sepak Bola

Selama beberapa puluh tahun usaha bongkar muat batu bara tersebut, akhirnya warga meminta agar usaha tersebut dipindahkan ke tempat lain.

Seperti di kawasan Pelabuhan Khusus milik Maspion dan di Pelabuhan internasional Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), di Manyar.

Setelah berorasi di depan pintu gerbang PT GJT, sehingga pihak kepolisian dan Koramil memediasi keinginan warga. Mediasi berlangsung di balai RW, Kelurahan Kemuteran. Dalam mediasi tersebut warga hanya ingin menegaskan bahwa usaha bongkar muat batu bara harus relokasi.

"Setelah lama menanti dan warga sudah kapok dengan keberadaan polusi batu bara. Salah satu solusinya yaitu usaha bongkar muat batu bara harus relokasi atau kapal tongkang muatan batu bara dibongkar di tempat lainnya," kata Lutfi, perwakilan warga terdampak polusi batu bara.

Halaman
12
Penulis: Sugiyono
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved