Nadiem Makarim Kaji Penerapan SKS SMK, Ketua Dewan Pendidikan Jatim: Butuh Road Map Nasional

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem sedang mengkaji perubahan kurikulum. Salah satunya yaitu penerapan sistem SKS untuk jenjang SMK.

Nadiem Makarim Kaji Penerapan SKS SMK, Ketua Dewan Pendidikan Jatim: Butuh Road Map Nasional
Tribunnews/Jeprima
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim memberikan kata sambutan usai serah terima jabatan (sertijab) di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2019). Nadiem Makarim resmi ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Pendidikan Tinggi (Mendikbud Dikti) pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem sedang mengkaji perubahan kurikulum. Salah satunya yaitu dengan penerapan sistem SKS untuk jenjang SMK.

Menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Hudiyono, perubahan kurikulum memang harus adaptif. Bahkan ada beberapa kurikulum yang harus menyesuaikan dengan perkembangan masa.

Ditempeli Stiker Keluarga Miskin di Depan Rumah, 18 Warga Desa Sekapuk Undur Diri Dari PKH

"Jatim memahami bahwa kurikulum selalu berubah. Untuk merubah ini perlu tahapan. Itu pun tidak semuanya dirubah. Ada komponen tertentu yang memang menyesuikan kebutuh industri," ungkapnya.

Ia memaparkan, kemampuan anak didik sangat bervariasi, sehingga ada pengklasifikasiannya. Karena itu, Jawa Timur sendiri sudah memberikan pelayanan kognisi kepada siswa dengan sistem SKS untuk SMA.

VIRAL Spotify Wrapped 2019, Simak Cara Lihat di HP, Terbaru Ada Fitur Podcast Paling Sering Didengar

Menang Dari UPI, Tim Futsal Putri UNJ Ukir Sejarah dalam LIMA Futsal Nationals Season 7

Sedangkan untuk jenjang SMK, pihaknya baru akan mengkaji perubahan terkait SKS. Pasalnya SMK memang fokus pada keterampilan kebutuhan industri.

"Desain kurikulum sudah dilakukan. Kaidah kurikulum yang standart. Tapi misalnya dari kepadatan kurikulum sudah memenuhi tahapan tahapan seperti membaca, mendengar, menulis, menganalisa dan praktek tidak ada masalah," ujarnya.

Ramalan Cinta Zodiak Hari Ini Jumat, 6 Desember 2019: Scorpio Hati-hati Dicap Mata Keranjang

Muncul Soal Ujian Bermuatan Khilafah, Anggota DRPD Jatim: Masyarakat Tidak Perlu Takut

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Prof Akh Muzakki menjelaskan perubahan kurikulum membutuhkan road map secara nasional.

Sehingga tidak ada kesan berganti pejabat juga ada pergantian program secara nasional.

"Mendikbud tidak punya visi sendiri, visinya ya visi presiden. Yang menarik dari Mendikbud ini, melihat pendidikan sebagai investasi tidak kalah pentingnya menjawab dua tantangan ini," paparnya.

Angel Karamoy Diajak Datang ke Dukun saat Nyaleg, Ditolak Mentah-mentah, Robby Purba: Mahar Berapa?

Tugas Berat Rudy Keltjes Bawa Tim Sepak Bola Jatim Lolos PON Papua XX 2020

Terlebih, di Jatim persoalan pendidikan vokasi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah. Sebab, faktanya penyumbang angka pengangguran terbesar dua tahun belakangan ini adalah lulusan SMK. Sehingga harus ada yang dibenahi.

"Bagaimana solusinya? Ya harus mensinergikan kebijakan baru dan kebutuhan di Jawa Timur. Bagaimana teknologi dapat dipergunakan untuk memperluas akses. Jangan sampai sekolah vokasi yang biayanya lebih mahal justru tidak memiliki nilai balik dari investasi yang diberikan," urainya.

UCAPAN Terima Kasih dari Suami Dina Oktavia yang Dituduh Tinggalkan Istri karena Bayinya Cacat

Tim Sepak Bola Jatim Lakoni Laga Pernada Kualifikasi Pra PON Hadapi Kalsel di Sidoarjo

Sehingga, BLK (Balai Latihan Kerja) saja tidak cukup, penempatan keterampilan teknis melalui teknologi harus disertai dengan penguatan karakter kebangsaan.

Sebelumnya, wacana penerapan sistem SKS untuk jenjang SMK dinilai Menteri Nadiem efektif dalam memberikan ruang bagi siswa untuk berkompetisi dan meningkatkan keterampilannya.

Merasa Disudutkan, Suami Dina Oktavia Buka Suara dan Buka Aib Keluarganya

Malang Dilanda Hujan Es, Bikin Atap Rumah Ambruk hingga Pohon Tumbang, Berikut Penjelasan BMKG 

Sebab, dalam sistem SKS siswa yang dianggap pintar dan lebih cepat menguasai keahlian tertentu bisa lulus setelah dua tahun saja menempuh pembelajaran (kegiatan belajar-mengajar) di sekolah.

Sedangkan siswa yang lambat menyerap ilmu bisa sampai empat tahun untuk lulus. (Sulvi Sofiana)

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved