Sosok Inspiratif
Sosok Taryaningsih PNS Trenggalek, Bangun Galeri Produk & Tempat Pelatihan Demi Difabel Berkualitas
Inilah kisah Taryaningsih PNS Trenggalek bangun galeri produk dan tempat pelatihan demi difabel berkualitas.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Arie Noer Rachmawati
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Taryaningsih gelisah. Ia tak bisa pura-pura diam ketika melihat anak didiknya yang baru lulus kesulitan mencari kerja.
Saat itu tahun 2009. Tary, sapaan akrabnya, menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekolah Luar Biasa Bhayangkari Trenggalek. Ketika itu, jenjang tertinggi di sana setingkat SMP.
Dengan dana pribadi, ia membeli alat-alat jahit, sablon, dan bordir manual. Karena dana terbatas, ia hanya bisa membeli alat-alat bekas.
• Kisah Sukses Blendi Tewel Bu Nunik, Kuliner Khas Blitar yang Pedas & Nagih, Tembus Singapura-Taiwan
Setelah semua alat lengkap, Tary mulai membangun tempat pelatihan dan galeri produk di Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek.
Anak-anak SLB yang baru lulus di tempat ia mengajar diajak untuk berkarya di sana.
"Awalnya lima orang [penyandang disabilitas]. Lalu ada lagi tambahan satu orang dari Kota Batu," kata Tary.
Usaha yang dijalankan para difabel itu berjalan cukup baik. Lambat namun pasti, pesanan produk-produk konfeksi mulai datang.
Jumlahnya tak banyak, Tary mengenang. Tapi, cukup untuk membuat para penyandang disabilitas punya aktivitas yang menghasilkan.
Dari sana, hasrat Tary untuk menjangkau lebih luas para difabel makin menggebu.
Pada 2013, ia memutuskan untuk mencari beasiswa strata dua.
Tary menyadari, pengetahuan yang telah dimiliki belum cukup untuk mewujudkan cita-citanya.
Nasib mujur, ia lolos dan berkuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pendidikan strata satu Tary selaras dengan jurusan tempatnya belajar saat itu. Kampusnya pun sama.
Sejak berkuliah, Tary mulai tak intens mendampingi para difabel di galeri yang ia bangun.
"Saya pulang seminggu sekali. Tapi order tetap jalan," aku Tary.
Di sela kuliah, ia mengikuti kursus singkat tentang pendidikan luar biasa di Thailand.
• Potret Ratu Kachita, Sosok yang Akui Fanni Aminadia Ratu Keraton Agung Sejagat Bak Ibu Sendiri
Tary menyelesaikan seluruh studinya sekitar akhir 2014.
Dengan tabungan Rp 500 juta yang ia kumpulkan bertahun-tahun, Tary membeli lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.
Tary butuh tempat yang lebih luas apabila ingin merangkul lebih banyak para penyandang disabilitas.
Ia pun memindah galeri dan tempat produksi ke lokasi yang baru.
Tempat itu juga yang kemudian menjadi markas Yayasan Penyandang Disabilitas Naeema. Tary menjadi ketuanya.
Di yayasan itu, Tary awalnya mengajak sekitar 23 difabel untuk bergabung. Ia mengerojok yayasan dengan modal pribadi yang lumayan.
• Kisah Haru di Balik Pertemuan Nadya Elvira dan Nabila Azzahra, Kini Cari Saudara Kembar ke-3
Tapi, hasil yang didapat saat itu belum sesuai harapan. Inilah masa-masa kolaps awal Taryaningasih dan yayasannya.
"Waktu itu belum ada bantuan sama sekali. Sampai kemudian disuplai Mas Ipin [Wakil Bupati, saat ini Bupati Trenggalek]. Kebetulan dia temanku sebelum dia tinggal di Trenggalek," kata Tary.
Mulai dari sana, Tary tahu ada banyak celah bantuan yang bisa ia ajukan. Coba-coba, ia kengirim proposal ke Kementerian Sosial.
Ketika proposal bantuan usaha ekonomi produkif itu disetujui, ekonomi yayasan mulai bangkit. Bahkan Tary bisa membeli banyak mesin baru.
"Sekarang usahanya lumayan banyak. Ada bordir digital, jahit, sablon, dan katering," paparnya.
Tary juga membangun pusat terapi yang dijalankan para penyandang disabilitas. Puncaknya, sebanyak 45 difabel bergabung dengan yayasan itu pada 2015.
• Awal Kisah Cinta Teddy dan Lina Mantan Istri Sule dari Nyanyi Bareng Lagu India Tum Hi Ho di Smule
Dua tahun kemudian, Tary memutuskan untuk mengikuti kursus singkat soal disabilitas ke Australia. Ia merasa perlu memperbarui ilmu.
Tapi, kepergian Tary meninggalkan pilu. Ketika ia kembali ke Indonesia beberapa bulan kemudian, yayasan kembali kolaps.
"Saya pulang, waktu itu saya punya mobil sampai harus saya jual," ungkapnya.
• Sosok Awkwafina, Wanita Asia Pertama Peraih Golden Globe Awards 2020 Kategori Aktris Terbaik
Mulai dari sana, Tary, para penyandang disabilitas yang ada, dan yayasannya mencoba bangkit pelan-pelan dan bersama-sama.
Di awal 2020, kondisi ekonomi yayasan cukup baik. Usaha yang dijalankan juga berjalan lancar.
Dalam sebulan, penghasilan kotor dari seluruh lini usaha yang digerakkan para penyandang disabilitas untuk mencapai belasan juta rupiah.
Ada 17 penyandang disabilitas di Yayasan Naeema.
Tak hanya dari Trenggalek, beberapa dari mereka berasal dari kota-kota sebelah. Bahkan ada juga yang dari Sulawesi. (Aflahul Abidin)