RESPON Pakar Hukum Pidana UB Siswa Bunuh Begal Tak Bisa Putusan Lepas, 'Terbukti & Masuk Pidana'

RESPON Pakar Hukum Pidana UB Siswa Bunuh Begal Tak Bisa Putusan Lepas, 'Terbukti & Masuk Pidana'.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM
Cerita Sebenarnya Siswa Bunuh Begal di Malang, Cewek yang Dilindungi Bukan Pacar, Fakta Baru Terkuak 

RESPON Pakar Hukum Pidana UB Siswa Bunuh Begal Tak Bisa Putusan Lepas, 'Terbukti & Masuk Pidana'

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pelajar Malang bunuh begal demi lindungi pacar, ZA (17) sempat berharap bisa mendapat putusan lepas atau ontslag van rechtsvervolging.

Namun harapannya itu pupus setelah hakim memutuskan, ZA terbukti melakukan penganiayaan berujung kematian. Sebagaimana pada pasal 351 KUHP.

Pakar Hukum Pidana dari Universitas Brawijaya, Prija Jatmika menerangkan, ada syarat bagi sebuah perkara hukum yang dapat diberi putusan ontslag.

ALASAN Keluarga Siswa Bunuh Begal di Malang Ikhlas Terima Nasib ZA Divonis Satu Tahun Pembinaan

Ahli Hukum Pidana Universitas Brawijaya Pertanyakan Vonis Hakim Kasus Pelajar Bunuh Begal di Malang

Jadi Tempat Pembinan Remaja Pembunuh Begal di Malang, Begini Cara LKSA Darul Aitam Bina ABH

"Onstlag ada syaratnya.  Perbuatannya terbukti, tapi bukan pidana. Misalnya utang piutang, sewa- menyewa. Itu perbuatan tapi bukan pidana" kata Prija ketika dikonfirmasi, Jumat (24/1/2020).

Terkait hasil putusan sidang ZA, Prija berpendapat Majelis Hakim harusnya melihat pasal 49 ayat 1 dan 2 KUHP, tentang pembelaan diri atau noodweer.

Pasal 49 ayat 1 menerangkan, seseorang bisa tidak dipidana karena pembelaan yang menyangkut pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Lalu ada ancaman serangan yang sangat dekat.

Sedangkan pada ayat 2 menerangkan, pembelaan terpaksa yang melampaui batas. Bisa menimbulkan keguncangan jiwa yang hebat karena ancaman serangan itu.

"Ada goncangan yang memaksa, goncangan jiwa yang besar. Ada tiga syarat yang kemarin saya jelaskan sudah terpenuhi. Proporsional antara serangan dan pembelaan imbang. Yang diperkosa kan jika diperkosa akan menderita seumur hidup. Begitu juga yang mati. Kecuali, dia (pelaku) murni membunuh ya tidak imbang," jelas Prija.

Prija juga berkomentar terkait pisau yang dibawa ZA. Pisau tersebut dibawa ZA usai keperluan prakarya membuat stik es krim di sekolahnya.

"Nah ini pisau dari prakarya stik eskrim dari sekolah yang dibawa oleh ZA. Maaf kurang jeli ini, harus dilihat juga pasal 49 ayat 2 itu," kata Prija.

Prija memberikan komentar terkait penanganan kasus perkara anak. Menurutnya, kasus perkara anak ada tiga tindakan.

"Memang tindak pidana anak itu pilihannya cuma tiga. Dibina oleh negara, dikembalika oleh orang tua dan ketiga dipidana. Tapi secara hukum, orang dibina itu kan punya kesalahan. Sebenarnya kalau dalam kasus ini mestinya dibebaskan," beber Prija.

Terkait putusan pembinaan kepada ZA, Prija menerangkan putusan tersebut adalah moderat atau jalan tengah.

"Tapi kalau pilhannya dibina satu tahun, ya sudah ini paling moderat ya," ujar Prija.

Penulis : Erwin Wicaksono

Editor : Sudarma Adi

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved