Kisah Mahasiswa Unair Banting Stir Bisnis Konveksi ke Produsen Baju APD, Mampu Produksi 7000 Sepekan

mahasiswa Unair yang punya bisnis konveksi yang dikelola oleh keluarganya, kini fokus mengubah bisnis tersebut menjadi bisnis produsen baju APD.

ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Hasil baju APD dari bisnis konveksi milik mahasiswa psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2019, Muhammad Fahmi Ulin Nuha. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ada salah satu mahasiswa Unair yang punya bisnis konveksi yang dikelola oleh keluarganya, kini tengah fokus mengubah bisnis tersebut menjadi bisnis produsen baju Alat Pelindung Diri (APD) untuk para tim medis dan para dokter, khususnya yang sedang menangani masyarakat yang telah terkena virus corona.

Mahasiswa Unair yang telah mengubah bisnis konveksinya menjadi produsen baju APD untuk bantu tangani Covid-19 tersebut adalah Muhammad Fahmi Ulin Nuha, mahasiswa psikologi Universitas Airlangga (Unair) angkatan 2019.

"Hadirnya ide untuk mengubah bisnis konveksi milik keluarga saya menjadi produsen baju APD berawal dari adanya keinginan kakak yang sedang menempuh pendidikan spesialisas dokter anak yang meminta untuk dibuatkan baju APD dengan bahan spunbond karena barang di pasaran susah dicari dan harganya sangat mahal," kata Fahmi, Senin (13/4/2020).

Daripada Rebahan Saja, Mahasiswa di Trenggalek Jual Durian untuk Donasi Penanggulangan Covid-19

Cerita Mahasiswa Unej Sidang Skripsi Online, Deg-degan Tatap Penguji di Layar: Harus Tanggung Jawab

Mahasiswa Sastra Universitas Jember ini Hatinya Berdebar-debar Saat Ujian Skripsi Daring

Ditanyai soal proses produksi baju APD itu, ia mengatakan upaya mengubah bisnis konveksi menjadi produsen baju APD diawali dengan konsultasi kepada para dokter dan rumah sakit relasi, hal ini dilakukan untuk memastikan baju APD yang telah diproduksi telah memenuhi standar medis.

Kemudian, lanjut Fahmi, setelah dipastikan memenuhi standar medis, berlanjut pada upaya mencari bahan spunbond yang sudah langka di pasaran.

“Alhamdulillah, setelah beberapa upaya akhirnya kita dapat akses langsung dari pabrik yang memproduksi kain spunbond tersebut,” ucapnya.

Ia juga mengatakan, bisnis tersebut telah memproduksi sekitar 7.000 baju APD dalam waktu satu minggu dan untuk target produksi yang direncakan adalah mencapai 26.000 baju APD.

Baju APD tersebut juga dijual oleh Fahmi dengan harga yang murah.

"Saya menjual baju APD ini sebesar 30 ribu rupiah untuk kain 50 gsm dan 60 ribu rupiah untuk kain dengan kualitas 75 gsm," ucapnya.

Fahmi juga mengatakan, agar tetap bisnisnya berjalan terus, khususnya selama wanah corona belum berakhir, dirinya dan keluarganya juga telah meningkatkan ongkos untuk para penjahit yang bekerja ditempatnya.

“Kami juga meningkatkan ongkos para penjahit dan tim produksi lainnya agar mereka dapat bertahan dalam menghadapi wabah Covid-19 ini,” lanjut Fahmi.

Setidaknya terdapat 50 karyawan yang bekerja dengan Fahmi dan keluarga.

Terkait untuk mencegah penularan Covid-19, Fahmi dan keluarga menerapkan beberapa upaya, di antaranya adalah menyediakan tempat cuci tangan dan sabun antiseptik; penyemprotan gudang dua hari sekali; menyediakan hand sanitizer; pemakaian masker oleh para pekerja dan melarang pekerja yang sakit untuk tidak pergi bekerja walaupun hanya sakit ringan, serta jika ada yang sakit dipersilahkan untuk istirahat di rumah lebih dulu.

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved