Breaking News

PSBB Surabaya Raya

Keluhan Pedagang di Surabaya saat PSBB Diperpanjang, Omzet Turun Hingga Tiada Bansos: Rezeki Hilang

PSBB Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik) kembali diperpanjang oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan ketiga bupati/wali kota.

TRIBUNJATIM.COM/SOFYAN ARIF CANDRA SAKTI
Pendapatan Pedagang Kecil Menurun Sejak Diberlakukan PSBB 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - PSBB Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik) kembali diperpanjang oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan ketiga bupati/wali kota yaitu Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Plt Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, dan Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto.

Keputusan ini mendapatkan berbagai macam respon dan keluhan dari masyarakat terutama para pedagang di Surabaya yang juga merasakan dampak langsung akibat diterapkannya PSBB pada periode pertama.

Salah satunya adalah pengusaha air isi ulang di kawasan Lidah Wetan, Ade Irawan, yang omzetnya menurun drastis sejak PSBB diperpanjang.

Izin Kemenkes PSBB Malang Raya Kemungkinan Turun Selasa Besok, Wali Kota Sutiaji: Bahas Mekanismenya

Penerapan PSBB Surabaya Tahap Kedua Bakal Lebih Diperketat, Warung yang Bandel Bakal Ditindak Tegas

Jukir Surabaya Dianiaya Gegara Rebutan Lahan Parkir, Duel Mulut Berujung Pendarahan di Kepala

Sebelum PSBB, sehari ia bisa melayani isi ulang hingga 80 galon lebih. Tetapi, sejak PSBB, sehari tidak sampai 5 galon.

"Warung kopi kan tutup semua. Pelanggan saya rata rata memang warkop. Sekarang tidak ada," kata Ade.

Ade juga mempertanyakan apakah dengan PSBB  ada jaminan bisa menyelesaikan Pandemi Covid-19.

"PSBB 14 hari. Kalau dijamin berkurang nggak masalah. Kalau perlu lockdown. Tapi ini kan tidak. Corona-nya enggak hilang, rejeki saya malahan yang hilang," kata Ade.

Jika PSBB ditambah 14 hari lagi, ia mengaku keberatan karena sampai hari inipun ia tidak pernah mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

"Ya mungkin karena saya punya usaha isi ulang, jadi dianggap mampu. Padahal, ini lagi seret.," jelasnya.

Hal ini juga dirasakan oleh pemilik warung kopi di Pakis, Sawahan, Anfal yang mengaku omset penjualannya turun selama Pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PSBB.

Dari yang semula sehari omzetnya bisa mencapai Rp 250 ribu namun sekarang turun lebih dari 50 persen.

"Memang kebanyakan pelanggan saya cuma beli lalu dibawa pulang," katanya.

Ia juga menyayangkan tidak adanya program bantuan sosial yang sampai ke masyarakat baik dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jatim maupun Pemerintah Kota Surabaya.

"Pendapatan kita sudah mulai menurun sejak awal-awal Corona, sampai sekarang saya belum menerima (program bantuan sosial)," lanjutnya.

Ia berharap PSBB ini benar-benar solusi terbaik untuk memutus mata rantai penularan Virus Corona sehingga pandemi bisa berakhir.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved