Hasil Survey LRSM Kuak 4 Faktor Kekhawatiran Warga Mojokerto saat Corona, Harga Naik & Kena Covid-19
Hasil survey dari Lembaga Riset Stats Me (LRSM),ada 4 faktor mendasari masyarakat Kabupaten Mojokerto ditengah rasa khawatir terkait penyebaran Corona
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Hasil survey dari Lembaga Riset Stats Me (LRSM), ada empat faktor yang mendasari masyarakat Kabupaten Mojokerto ditengah rasa khawatir terkait penyebaran virus Corona atau Covid 19 saat ini.
Yaitu pertama, khawatir harga kebutuhan sehari-hari naik dan semakin mahal. Kedua, kehilangan pekerjaan atau tidak adanya pendapatan.
"Ketiga, terjangkit penyakit ini baik untuk diri sendiri atau keluarga, dan keempat, kesulitan untuk pergi ke tempat ibadah," jelas Aulia Dwi Rahayu, Analis LRSM, dalam rilisnya Rabu (13/5/2020).
• Wali Kota Mojokerto Apresiasi Positif Bantuan Covid 19 dari Tangki Air Anti Virus Mpoin
• Wanita 40 Tahun di Mojokerto Positif Covid-19, Pasien Merupakan Karyawan Pabrik Rokok di Surabaya
Keempat hal ini merupakan hasil analisis dari hasil survei, sebanyak 87,14 persen responden yang menyatakan khawatir dengan tren perkembangan Covid-19 di Jatim yang semakin meningkat. Adapun sisanya menyatakan tidak khawatir.
”Dalam situasi seperti saat ini, wajar memang jika mayoritas masyarakat merasakan kekhawatiran dan keresahan, karena di samping faktor kesehatan, dampak pandemi ini sangat luas memengaruhi kehidupan sosial-ekonomi warga,” ungkap Aulia.
Dari empat faktor itu, 49,29 persen responden menyatakan khawatir dan sangat khawatir kehilangan pekerjaan atau pendapatan.
Adapun untuk faktor kekhawatiran diri sendiri atau keluarga terjangkit Covid-19, 67,14 persen responden khawatir dan sangat khawatir.
”Dari temuan ini, kami bisa membaca bahwa masyarakat menginginkan keseimbangan langkah penanganan, baik itu terkait aspek kesehatan maupun ekonomi,” ujar Aulia, alumni Ilmu Statistik Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
Lantas apa kebutuhan masyarakat di masa pandemi? Survei ini menyebutkan, 31,43 persen masyarakat berharap bahan pokok bisa terpenuhi, 44,29 persen menyebut internet, dan 17,86 persen menyebut barang-barang terkait kesehatan.
"Kami bisa melihat bahwa pengeluaran terbesar masyarakat di masa pandemi ini adalah untuk kebutuhan bahan pokok, kemudian biaya internet. Di masa pandemi ini, keperluan kesehatan juga menghabiskan biaya lebih banyak daripada keperluan lain-lain, seperti pembayaran cicilan dan transportasi,” jelas Aulia.
Dia menambahkan, sejauh ini tingkat kepuasan masyarakat terhadap penanganan Covid-19 oleh pemerintah kabupaten Mojokerto relatif tidak tinggi. Sebanyak 59,29 persen masyarakat menilai respons pemerintah kabupaten Mojokerto terhadap penanganan Covid-19 sudah baik
”Angka kisaran 59 persen kalau dalam kacamata survei kepuasan publik bisa dibilang relatif tidak tinggi. Biasanya, untuk penanganan seperti pelayanan publik, pendidikan, kesehatan di masa normal, masyarakat menilai pelayanan pemerintah sudah baik di angka kisaran 60-70 persen, bergantung daerahnya,” ujarnya.
Selama masa pandemi, lanjut Aulia, Sebanyak 50 persen masyarakat mengakses informasi dari media sosial, media konvensional (online, cetak, televisi, radio) persen, dan situs resmi pemerintah 15 persen.
”Data ini agak mengkhawatirkan jika tak diiringi dengan literasi digital warga, mengingat banyak sekali hoaks berseliweran di media sosial terkait Covid-19. Sumber informasi yang layak dan benar akan sangat memengaruhi sikap warga dalam menghadapi pandemi Covid-19. Orang bisa keliru bersikap jika termakan hoaks. Ini menjadi tantangan kita bersama,” ujarnya.
Survei ini melibatkan 400 responden di 18 kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto dengan menggunakan teknik Slovin untuk pengambilan sampel.
Survei digelar pada 1-6 Mei melalui telepon. Margin of error survei sebesar 5 persen