Curhat Pilu Pengusaha Resto Surabaya yang Mati-matian Saat PSBB, Sudah Jual Mobil & Angkat Tangan
Inilah curhat pilu pengusaha resto di Surabaya saat masa PSBB. Sudah berjuang mati-matian
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Januar
Inilah curhat pilu pengusaha resto di Surabaya saat masa PSBB. Sudah berjuang mati-matian
Laporan wartawan TribunJatim.com, Sri Handi Lestari
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - PSBB Surabaya diperpanjang hingga 8 Juni 2020 karena upaya menekan penyebaran Covid-19 belum optimal.
Sebagai sebuah paket kebijakan, PSBB juga diberlakukan di Sidoarjo dan Gresik.
Terus berlanjutnya pembatasan sosial ini diakui para pengusaha Kota Pahlawan sebagai pukulan telak pada usaha mereka.
Termasuk para pengusaha kafe dan restoran yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia - Apkrindo Jatim.
• Habib Bahar Bocorkan Perlakuan Petugas Lapas Nusa Kambangan Kepadanya: Saya Seperti Bola Karet
Dalam perbincangan dengan Surya (Grup TribunJatim.com), Sabtu (23/5/2020), Tjahjono Haryono, Ketua Apkrindo Jatim mengungkapkan kondisi yang menimpa usaha mereka pada masa pandemi Covid-19 ini.
"Kami sudah habis-habisan saat PSBB tahap I diberlakukan. Kalau sekarang dilakukan lagi, tolong pengajuan relaksasi 50 persen yang kami serahkan pada 11 Mei lalu diterima," kata Tjahjono Haryono.
Saat ini diakui Tjahjono, sektor kafe dan restoran sudah mengalami kinerja yang minus. Mereka juga kehilangan golden moment saat Ramadan dan Lebaran yang biasanya menjadi puncak revenue dari usaha mereka.
"Bahkan kami sudah melakukan penutupan, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) karyawan, dan meminta relaksasi kredit ke perbankan," ungkapnya.
Tak hanya itu, banyak pengusaha yang terpaksa harus menjual harta bendanya untuk mempertahankan karyawannya dengan harapan Covid-19 bisa segera diatasi dan sektor usaha tetap berjalan.
"Saya sudah jual mobil. Dan saat ini sedang jual tanah dan rumah. Tapi jual itu juga sulit di tengah kondisi saat ini," kisah Steven Tjan, Wakil Ketua Apkrindo Jatim.
Steven menceritakan, pada Februari 2020 lalu, dirinya masih melakukan perjalanan bisnis di Hongkong untuk mendapatkan investor pengembangan usaha restorannya.
"Bulan Maret kembali ke Indonesia, pandemi mulai ada dan ada gerakan stay at home," ungkapnya.
Penurunan omzet mulai terjadi. Padahal di saat bersamaan, Steven sedang men-training sekitar 50 calon karyawan baru untuk usaha restoran anyarnya.