Breaking News:

Petani Tembakau di Jember Menjerit, Biaya Produksi Tanam Tembakau Melonjak

Biaya produksi menanam tembakau di Kabupaten Jember tahun ini naik sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Penyebab kenaikan biaya produksi

sri wahyunik/surya
Mursidi menyiram tanaman tembakaunya di Desa Gumuksari Kecamatan Kalisat, Minggu (21/6/2020) 

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Biaya produksi menanam tembakau di Kabupaten Jember tahun ini naik sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Penyebab paling banyak kenaikan biaya produksi itu berasal dari harga pupuk.

Sebulan terakhir ini merupakan masa tanam tembakau di Kabupaten Jember, baik tembakau yang ditanam pihak perusahaan maupun petani. Seperti yang dilakukan petani tembakau di beberapa kecamatan di kawasan Jember bagian utara.

Petani tembakau seperti di Kecamatan Kalisat, Pakusari, Sukowono, dan Ledokombo sudah mulai menanam tembakau. Kasturi, adalah jenis tembakau yang ditanam petani di kawasan ini.

Tetapi, saat ini petani tembakau dihadapkan pada kenaikan biaya produksi. Mursidi, seorang petani di Desa Gumuksari Kecamatan Kalisat, menuturkan pada masa tanam tembakau tahun ini, dia harus mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Mursidi menanam tembakau Kasturi sebanyak 6.000 pohon.

Masjid Al Akbar Surabaya Gelar Salat Gerhana Matahari, Jemaah Bisa Pantau Gerhana Lewat Layar Lebar

Gelombang Kedua Covid-19 Ancam Banyak Negara Asia karena Lalai, Negara Mana Paling Berisiko?

Indra Sjafri Beberkan Kronologi Perseteruan Dirinya dengan Pelatih Timnas: Banyak Bohongnya

"Tahun lalu, biaya produksinya Rp 3 juta. Tahun sekarang mencapai Rp 4,5 juta. Paling banyak dari biaya pupuk. Karena harga pupuk sekarang naik drastis," ujar Mursidi, Minggu (21/6/2020).

Mursidi menceritakan, harga pupuk urea yang dipakai memupuk tembakau kini mencapai Rp 280.000 per kuintal. Tahun lalu, harga pupuk urea berkisar Rp 180.000 per kuintal.

"Dan saya butuh sekitar 6 kuintal. Sudah mahal, nyarinya sulit lagi. Dibatasi," imbuh Mursidi kepada TribunJatim.com.

Dari pantauan Surya, komoditas tembakau mulai ditanam di areal persawahan di Kecamatan Kalisat, juga Pakusari. Tanaman tembakau itu ada yang berusia satu bulan, namun ada juga yang masih kurang dari satu bulan.

Tanaman tembakau milik Mursidi sudah berusia satu bulan. Masa panen komoditas itu diperkirakan bulan September nanti. Mursidi belum mengetahui harga tembakau saat ini, karena gudang tembakau belum memulai pembelian.

Karenanya, dia berharap meskipun ada kenaikan biaya produksi, harga tembakau bagus dan menguntungkan petani seperti tahun lalu. Dari areal yang ditanami 6.000 pohon tembakau itu, tahun lalu Mursidi mendapatkan hasil sekitar Rp 15 juta.

"Semoga juga bagus, seperti tahun kemarin," harapnya kepada TribunJatim.com .

Tahun ini, pemerintah mengurangi kuota pupuk, termasuk untuk Kabupaten Jember. Pengurangan kuota pupuk tahun ini sampai sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan data dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), kuota pupuk urea di Jember tahun 2020 hanya 47.038 ton, berkurang sekitar 50 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 89.975 ton.

Akibat pengurangan kuota ini, petani kesulitan mencari pupuk, termasuk ketika masa tanam sejumlah komoditas saat ini seperti tembakau, padi, dan jagung. (Sri Wahyunik/Tribunjatim.com)

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved