Breaking News:

Virus Corona

Tim Pemakaman Jenazah Covid-19 di Kudus 'Kerja Ikhas' Tanpa Dibayar, Isolasi Mandiri di Toren Air

Kisah tim pemakaman jenazah Covid-19 di Kabupaten Kudus. Kerja ikhlas tanpa dibayar sepeser pun. Jalani isolasi diri di tempat penampungan air.

TRIBUNJATENG/RAKA F PUJANGGA
Proses pemakaman jenazah Covid-19. 

TRIBUNJATIM.COM - Kementerian Kesehatan menjanjikan insentif sebesar Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per bulan bagi tenaga medis virus Corona ( Covid-19 ). 

Hal itu diberikan sebagai ucapan terima kasih atas jasanya menjadi garda depan penanganan pademi Covid-19.

Namun, apa kabar tim pemakaman jenazah Covid-19 di Kabupaten Kudus? 

Penampakan Rumah Suami Zaskia Gotik, Sirajuddin Mahmud di Balikpapan, Si Biduan Betah: Morning View

Sikap Keluarga Sirajuddin Mahmud ke Zaskia Gotik di Balikpapan, Kado dari Kakak Ipar: Masyaallah

Sama-sama mengemban tugas yang besar nan mulia, tapi mereka tampaknya harus rela bekerja tanpa bayaran. 

Mereka terus berjuang tanpa pamrih.

Begini kisah lengkapnya?

Tim pemulasaraan jenazah yang ada di Kabupaten Kudus berasal dari relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus. Jumlahnya sebanyak 10 orang.

Mereka tidak mendapatkan upah sepeser pun dari setiap jenazah yang telah dimakamkan.

Wali Kota Risma Ungkap Tren Kesembuhan Pasien Covid-19 Meningkat: Surabaya Tertinggi di Indonesia

Mengintip Rumah Mewah Sirajuddin Mahmud Suami Zaskia Gotik di Balikpapan, Eneng: Alhamdulillah

Satu di antaranya Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, yang sudah dua bulan terakhir membantu pemulasaraan jenazah.

Kristanto menceritakan, tim pemulasaraan terbentuk atas permintaan rumah sakit yang kesulitan menangani pasien yang telah meninggal dunia.

"Kami membentuk tim pemulasaraan jenazah ini karena dari rumah sakit kesulitan menanganinya, sehingga kami diminta tolong," ujar dia, Sabtu (20/6/2020).

BREAKING NEWS - Gerhana Matahari Sebagian akan Terlihat di Jawa Timur Sore Ini, Catat Jamnya

TIDUR DI TOREN AIR - Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, relawan pemulasaraan tinggal di toren air agar menghindari keluarganya terpapar.
TIDUR DI TOREN AIR - Kristanto (39), warga Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, relawan pemulasaraan tinggal di toren air agar menghindari keluarganya terpapar. (ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM)

Dia mengatakan, tidak mendapatkan honor dari rumah sakit atau pemerintah untuk membantu proses pemulasaraan jenazah.

Bahkan, insentif tenaga kesehatan yang dijanjikan Kementerian Kesehatan sebesar Rp 5 juta sampai Rp 15 juta per bulan pun tak bisa mereka rasakan.

Kris mengaku apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang ikhlas sehingga tidak berharap ada timbal baliknya.

Namun dia akan senang hati bersedia menerima uang lelah untuk hasil jerih payahnya bersama teman-teman tersebut.

"Kami di sini kerja ikhlas tidak menuntut bayaran, tetapi kalau ada insentif untuk kami tentu senang," ucapnya.

Apalagi pekerjaan pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 itu merupakan kegiatan yang berisiko tertular. ‎

Bahkan, dia rela meninggalkan dua buah hatinya dan istrinya karena menjadi relawan pemulasaraan jenazah.

Dia khawatir, jika sering bertemu keluarga saat tengah menjalani pekerjaannya sebagai relawan itu dapat menulari orang yang disayangi.

Makanya dia memilih untuk tinggal di Kantor BPBD Kabupaten Kudus yang berada di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

"Saya pernah tidak ketemu sama keluarga sampai 28 hari," jelas dia.

Menariknya, saat melakukan isolasi mandiri dari keluarga tersebut dia memilih tidur di tempat penampungan air (toren).

Dia memilih tempat tersebut karena merasa lebih nyaman untuk beristirahat sejenak setelah memakamkan jenazah.

"Saya pilih tinggal di toren, buat saya lebih nyaman saja di sana," ujarnya.

Selama menjadi relawan, Kris mengaku lebih banyak duka dibandingkan sukanya. Namun bersama teman-temannya, mereka bisa menikmati pekerjaan tersebut.

Meskipun mereka harus bekerja hingga larut malam sampai pukul 02.00 dini hari, bahkan ‎memakamkan empat orang sekaligus dalam sehari.

"Kami bekerja di sini harus sehat, tapi tidak harus waras. Yang penting sehat dulu biar bisa membantu yang lain," selorohnya.

Kris saat ini bekerja sebagai buruh serabutan ikut beberapa temannya. Biasanya dia mengerjakan infrastruktur jalan.

"Saya bekerja buruh, kalau ada pekerjaan bantu-bantu teman ikut proyek," jelasnya.

‎‎Sementara itu, Siswanto (44), warga Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus mengatakan, selalu memperhatikan kesehatannya agar bisa tetap bekerja.

Secara acak, anggota pemulasaraan itu juga dites swab untuk mengetahui terpapar atau tidak.

"Biasanya satu yang dites swab, karena kalau satu kena biasanya semua kena. Dan sudah beberapa kali kami tes swab," ujarnya.

Siswanto bekerja ikhlas sebagai relawan tidak mengharapkan uang sepeser pun.

Namun dia juga tidak menolak jika ada perhatian pemerintah terhadap tim relawan.

Apalagi tim bertaruh dengan nyawanya, karena menangani sejumlah jasad yang sebelumnya terpapar virus.

"Kami tahu jasad sudah dibungkus rapi, tetapi kami juga tetap mengenakan hazmat sebagai protokol kesehatan," jelas dia.

Kesulitannya, mereka yang menguburkan jenazah itu menggunakan hazmat sehingga membuat keringat mudah bercucuran.

‎"Macul biasa saja keringatan, apalagi pakai hazmat sama masker. Sampai sulit bernafas," jelasnya.

Beruntung selama menjadi tim pemulasaraan ini, dia bisa jalan-jalan sampai ke luar kota karena lokasi pasien berbeda-beda.

Sehingga mereka bisa sedikit terhibur melihat pemandangan di kabupaten/kota lainnya.

"Karena ikut ini, pengalamannya jadi sering ke luar kota. Ke Semarang, Jepara, Pati, karena asal pasien berbeda," ujar dia.

Walaupun kondisinya sulit, Siswanto bersam rekan-rekannya selalu siap melayani pemulasaraan jenazah Covid-19.

Kepala BPBD Kabupaten Kudus, Bergas C, menceritakan, saat ini tim pemulasaraan ada 10 orang yang berasal dari relawan.

Namun padatnya jumlah pemulasaraan membuat anggotanya ditambah sekitar tiga orang.

"Awalnya 10 orang, tetapi karena menyesuaikan kebutuhan jumlah kasus Covid-19 meningkat. Sekarang tambah tiga orang," ujar dia.

Dalam sehari, karena intensitasnya meningkat membuat jumlah pemulasaraan bertambah menjadi 4-5 orang per hari.

Tidak hanya pasien positif covid-19 yang meninggal menggunakan protokol pemulasaraan, namun juga pasien dalam pengawasan (PDP).

"Pemulasaraan di Kudus mengalami peningkatan sejak bulan Juni 2020 ini," jelasnya.

Semua tim pemulasaraan tersebut murni merupakan relawan yangg tidak mendapatkan honor.

Sehingga, kebanyakan dari anggota relawan yang merupakan buruh serabutan tersebut juga harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Mereka setiap hari bekerja, sebagian besar buruh. Relawan itu motivasi memang menolong, bukan karena uang," jelasnya. 

Tim Pemakaman Jenazah Kudus Rela Tidak Dibayar Hingga Isolasi Mandiri di Tandon Air

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Tim Pemakaman Jenazah Kudus Rela Tidak Dibayar Hingga Isolasi Mandiri di Tandon Air

Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved