Virus Corona di Surabaya

BREAKING NEWS - Pertama Kalinya Tingkat Penularan Covid-19 di Surabaya Raya Turun Dibawah 1

Angka transmission rate atau bilangan reproduksi tingkat penularan virus Corona atau Covid-19 di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sudah mulai turun.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Yoni Iskandar
(Surya/Fatimatuz zahroh)
Panglima TNI Marsekal TNI Dr (HC) Hadi Tjahjono berserta Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz melakukan kunjungan kerja dan rakor bersama Gubernur Khofifah Indar Parawansa terkait penanganan covid-19 di Jawa Timur, di Wisma Perwira Lanudal Juanda, Jumat (19/6/2020 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Angka transmission rate atau bilangan reproduksi tingkat penularan virus Corona atau Covid-19 di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sudah mulai turun.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Surabaya, dr Windhu Purnomo memaparkan pada 17 Juni transmission rate Surabaya Raya sudah  berada di bawah angka 1.

"Ini untuk pertama kalinya. Sebelumnya pada tanggal 12-16 Juni masih 1 persis. Lalu sebelum tanggal 11 Juni masih zona merah, di atas angka 1," ucap dr Windhu Purnomo kepada TribunJatim.com, Senin (22/6/2020).

Namun dr Windhu Purnomo mewanti-wanti agar pemerintah daerah tetap mengawasi penegakkan protokol kesehatan Covid-19 di tengah masyarakat .

Karena baik WHO (lembaga kesehatan dunia) maupun Bappenas telah menetapkan kriteria suatu daerah dikatakan bisa mengendalikan angka penularan Covid-19 adalah ketika transmission rate dibawah 1 bisa konsisten selama 14 hari berturut-turut.

Pedagang di Sekitar RSSA Kota Malang Ikuti Rapid Test

Diduga Sakit Yang Dideritanya, Pria Penjual Mainan di Kota Malang ini Ditemukan Meninggal

Bandit yang Ditembak Mati Polda Jatim Ternyata Jaringan Komplotan Bandit Pasuruan: Ini Eksekutornya

"Setelah 14 Hari berturut-turut di bawah satu baru kita siap untuk new normal. Jadi kita harus menunggu setidaknya sampai 31 Juni," kata Windhu.

"Tapi kalau sudah New Normal pun tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Pemerintah daerah juga harus mengawasi agar masyarakat ini tidak 'cul-culan'," lanjutnya kepada TribunJatim.com.

Lebih lanjut, karena hari ini, Senin (22/6/2020) adalah hari terakhir masa transisi new normal life di Surabaya Raya, Windhu menyarankan agar masa transisi ini tetap diteruskan dengan sanksi yang lebih tegas.

"Jangan seperti kemarin. Yang dibutuhkan adalah pengendalian dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan," lanjutnya.

Khusus untuk Kota Surabaya, Windhu meminta agar Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) mengatur dengan tegas sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan, layaknya Sidoarjo dan Gresik.

Hal ini dipandang masih perlu mengingat sampai sekarang angka kematian di Surabaya Raya masih tinggi.

Windhu merinci, di Kota Surabaya dan Sidoarjo angka kematian masih 7,8 persen. Lalu di Gresik angka kematian mencapai 9,9 persen.

"Artinya setiap 100 orang yang positif Covid-19 di Gresik, 10 diantaranya meninggal dunia. Angka ini jauh di atas angka nasional yaitu 5,6 persen," lanjutnya.

Angka kematian yang tinggi ini, menurut Windhu karena rumah sakit yang tidak bisa lagi menampung pasien Covid-19.

"Covid-19 itu angka kematian nya cuma 4 persen asalkan terawat. Orang yang meninggal itu karena tidak terawat dengan optimal," pungkasnya.
 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved